JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Wednesday, March 26, 2008

Video Clip: Vale Tudo Guard


http://www.youtube.com/watch?v=I4H42bnZDsQ

Berkut ini adalah sekilas drill dari guru saya Sifu Yuri Amadin tentang Vale Tudo Guard alias cara mempertahankan diri dalam MMA ketika kita berada dalam posisi di bawah.

Drill ini sangat bermanfaat buat orang-orang yang punya dasar kuat dalam stand-up fighting, yang kebanyakan "ogah" untuk bergulat berlama-lama di bawah untuk main kuncian. Buat yang lebih senang untuk bertarung berdiri (pukul, tendang dll), ini salah satu jalannya kalau-kalau saja mendadak "apes" berada dalam posisi di bawah.

Drill ini bisa ditingkatkan intensitasnya dengan kita memakai Helm pelindung dan partner kita menggunakan MMA Gloves dan berusaha benar-benar memukul KO kita.

Ingat, Train Hard, Train Smart!

semoga bermanfaat

Saturday, March 22, 2008

Video Clip: Dan Inosanto's BJJ


Ini ada video clip Dan Inosanto sedang berlatih Brazilian Jiujitsu pada usia 71 tahun. Setelah 10 tahun belajar BJJ di usia yang sudah tidak muda lagi (mulai dari sabuk putih lagi), Dan Inosanto adalah pemegang sabuk hitam Brazilian Jiujitsu dari keluarga Machado.

Sedikit pertanyaan usil buat diri kita sendiri, seandainya kita sudah terkenal dan diakui sebagai grand master di berbagai penjuru dunia, murid utama dan penerus Jeet Kune Do Bruce Lee, ahli dalam Filipino Kali, Muay Thai dll, masih sanggup dan sudikah badan maupun hati kita, untuk berguru, belajar, dan berlatih seperti yang dilakukan Dan Inosanto?

A True JKD Spirit!
A True Lifetime Student of Martial Art!

semoga bermanfaat

Thursday, March 13, 2008

Video Clip: Boxing Drill - 1


http://www.youtube.com/watch?v=qkc1_iB6Vbc


Ini ada video sekilas sesi penjelasan latihan awal boxing di JKD Indonesia dari guru saya Sifu Yuri Amadin.

semoga bermanfaat

Thursday, March 06, 2008

Artikel: Style is Individual


Ini isu basi sebenarnya. Tidak perlu terlalu lama menjelajahi internet untuk menemukan pertanyaan tentang Style Vs Style dalam berbagai forum diskusi seni beladiri (Karate Vs Kungfu menang siapa? Silat Vs Gulat siapa yang kalah? Dst dst...). Tulisan ini sekedar ingin menegaskan ulang saja bahwa STYLE IS INDIVIDUAL.

Sesungguhnya yang namanya ”style” alias ”aliran” senibeladiri, pada tingkat aplikasi ujung-ujungnya bergantung pada sang individu dan sangat individual sifatnya.
Lebih berabe-nya lagi, masing-masing individu adalah unik bagaikan molekul salju yang walau sama cantik, tapi pasti berbeda satu sama lain.

Style masing-masing individu dalam meng-ekspresikan seni beladiri-nya sudah pasti berbeda satu sama lain. Tergantung postur tubuh, kelincahan, orientasi, kesukaan, bahkan suasana hati. Menyadari hal itu, menjadi mustahil untuk membanding-bandingkan style/aliran yang satu dengan yang lainnya.

Kalau mau agak revolusioner sedikit, sesungguhnya style/aliran malah mengkotak-kotakkan manusia. Dalam salah satu pemikirannya Bruce Lee pernah berkata:

Styles tend to not only separate men - because they have their own doctrines and then the doctrine became the gospel truth that you cannot change. But if you do not have a style, if you just say: Well, here I am as a human being, how can I express myself totally and completely? Now, that way you won't create a style, because style is a crystallization. That way, it's a process of continuing growth.(Bruce Lee)

Kritik keras terhadap terbentuknya aliran ialah bahwa dalam aliran itu bisa ada doktrin yang kerap malah menjadi kebenaran mutlak yang seolah abadi. Teknik ataupun metode yang benar buat sang pencipta aliran seolah pasti manjur dan cocok bagi setiap pengikutnya di berbagai tempat dan waktu. Perbedaan-perbedaan yang sebenarnya manusiawi malah berpotensi menimbulkan cekcok dan pertengkaran saling mengaku benar sendiri.

Oleh karena itu dalam mempelajari suatu style/aliran, kita harus benar-benar mendalami setiap pelajaran yang diberikan. Kita harus sadar keunikan yang dimiliki ataupun dihadapi oleh sang pencipta aliran. Bagaimana situasi masyarakat tempat asal sang aliran tersebut, bagaimana postur tubuh sang guru besar, bagaimana pembawaan sifat ataupun filosofi hidup beliau, bagaimana pola berkelahi masyarakat pada saat itu, bagaimana cara berpakaian, persenjataan dll. Absorb what’s useful, reject what’s useless, and add what is specifically your own!

Style juga punya kecenderungan untuk dijadikan “tempat bersembunyi” bagi sebagian praktisi seni beladiri dengan hanya mengandalkan nama besar aliran. Ada sebagian orang yang tidak sepadan antara kebanggaan aliran dan kemampuan diri yang sesungguhnya.

Tapi mungkin ide menghilangkan style terlalu utopis. Bagaimanapun juga manusia pasti akan berkelompok sesuai dengan kepentingan dan keyakinannya masing-masing. Belum lagi kalau bicara tentang perlunya suatu jenjang pendidikan yang baku. Yang lebih penting ialah bagaimana agar perbedaan itu tidaklah menjadi pertengkaran.

Jadi, kalau ada yang masih ngotot bertanya soal menang mana kalau style ini melawan style itu, jawab saja: Menang aliranmu!!!! Hehehe

Semoga bermanfaat

Thursday, February 21, 2008

Artikel: Relax is The Key

Pernahkah anda menandatangani sesuatu yang anda anggap penting (kontrak, passport, SIM dll) dan mendapatkan tandatangan anda hasilnya jelek? Miring ke kanan/ke kiri, atau bahkan terlihat bergetar?

Jangan bimbang, resah, atau bingung. Kejadian itu belum pasti berarti bahwa anda punya masalah kesehatan (kolesterol tinggi, darah rendah dll). Melencengnya garis tanda tangan anda (tidak seperti biasa) bisa jadi ”sekedar” akibat lemah atau kurangnya kemampuan anda untuk relaksasi.

Relax in Martial Arts

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di berbagai seni beladiri, keadaan relax menjadi suatu kunci yang penting. Bagi seni beladiri ”santai” seperti Aikido, Tai-Chi dll, pentingnya keadaan relax sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Belum lagi seni beladiri yang ”tinggi” seperti Maenpo Cikalong yang mengutamakan kemampuan pengaturan tenaga (isi-kosong). Kalau tidak mengerti soal pengaturan tenaga (satu, setengah, kosong), mustahil bisa menguasai Maenpo Cikalong. Nah, kemampuan pengaturan tenaga itu hanya bisa didapat dari keadaan santai. Kalau dipikirin mah nggak bakal bisa.

Sebagaimana telah saya jabarkan di atas, pentingnya keadaan santai sangatlah penting di semua seni beladiri. Rodney King, seorang MMA Coach (sang pencipta street boxing) pernah memberikan tips kepada kami yg pada saat itu akan ikut kompetisi submission grappling, untuk santai dengan mendengarkan musik. Ia menyarankan bahwa di saat bertanding kita jangan berpikir, melainkan dengarkan saja musik tadi di kepala kita, sambil bertarung dengan mengalir seperti air.

Guru saya Yuri Amadin, salah seorang pelopor MMA di Indonesia, kerap melatih berbagai drill boxing maupun grappling dengan memejamkan mata dan santai. Niko Han, BJJ Blackbelt dari Indonesia, pernah mengajarkan kami untuk santai dengan membayangkan diri kita bagaikan berada dalam Matrix (as Neo, the chosen one), sehingga bisa melihat semua pergerakan lawan secara total dan terlihat lambat. Saya sendiri pernah mendapatkan pelajaran berharga dari Martin Hartono (BJJ Universal Grappling) tentang pentingnya bertarung dengan santai. Semakin kita ngotot dan bermain keras, semakin mudah bagi lawan untuk mempermainkan kita.

Whu-Hsin dan Wu-Wei

Dalam ”The Tao of Kungfu”, Bruce Lee pernah menulis tentang Wu-Hsin (No-Mindedness) dan Wu-Wei (Non-Doing). Terus terang ini konsep agak berat dan mendalam, saya tidak yakin bisa mampu menjabarkannya secara baik.

Inti pokoknya kurang lebih ialah agar kita seniman beladiri bisa mencapai kemampuan untuk berpikir secara totalitas tanpa harus memikirkannya. Kita harus mampu untuk melihat keadaan secara menyeluruh dan bergerak tanpa harus berusaha menggerakkan. Kesemua pencapaian itu bisa diraih dengan terlebih dahulu mencapai kondisi santai yang paripurna.

Untuk sekedar coba-coba, silahkan ambil selembar kertas berikut pena. Buatlah 10 buah tandatangan. Lihat sendiri berapa buah tandatangan yang anda anggap bagus dan rapih sesuai niatan anda. Bagaikan seorang pemain bola basket, usahakan anda selalu berada dalam kondisi “on-fire” setiap saat. Sekali lagi, kuncinya hanya satu: Santai saja Boss!!!

Semoga bermanfaat

Saturday, February 09, 2008

DISCLAIMER

Karena ada beberapa email dan pertanyaan langsung, saya kini menyadari bahwa Blog ini mungkin telah dibaca oleh kalangan yang lebih luas daripada perkiraan awal ketika saya mulai menulis dulu.

Dulu Blog ini saya mulai tulis dengan niat sebagai catatan pelajaran pribadi saya, yang kalaupun dibaca orang lain paling-paling hanyalah kawan-kawan latihan, murid, ataupun praktisi seni bela diri yang kebetulan kenal dengan saya.

Karena dengan perkembangan saat ini ada kemungkinan pembacanya sudah lebih luas dari itu, penting bagi saya untuk menegaskan beberapa hal yang penting dalam membaca Blog ini:

1. Seperti yang pernah saya ceritakan dalam artikel "Makin Belajar Makin Bodoh", saya berniat untuk terus menerus menjalani proses belajar untuk mendalami seni bela diri ini. Saya ingin menjadi "Lifetime Student of Martial Art" yang akan terus menerus belajar dan belajar. Oleh karena itu jangan heran kalau pendapat saya sangat mungkin untuk berubah dan lebih mungkin lagi untuk salah di kemudian hari. Jangan heran kalau misalnya suatu hari menemukan perubahan-perubahan dalam opini Blog ini. Blog ini adalah sebuah kisah perjalanan petualangan belajar seni beladiri.

2. Saya berharap siapapun yang membaca blog ini menyadari posisi pada No.1 itu. Pembaca Blog ini saya harapkan untuk bisa "Absorb What's Useful, Reject What's Useless". Jangan ambil mentah-mentah berbagai informasi dari blog ini. Jika ada yang baik silahkan diambil, yang buruk silahkan dibuang saja.

3. Knowledge is not power, the ability to apply your knowledge is the true power!!! Berkaitan dengan poin 2, pembaca harus merasakan dan menemukan jalan anda sendiri dalam seni beladiri. Jalan yang benar bagi saya, belum tentu benar apalagi baik untuk anda. Begitu juga sebaliknya. Blog ini memusuhi dengan serius para Keyboard Fighter yaitu para "ahli senibeladiri" yang punya segudang informasi dari internet dan bertingkah bak jawara padahal tak pernah berkeringat latihan senibeladiri. Anda harus coba, coba, dan coba buktikan sendiri.

dengan segala kerendahan hati,
ery nugroho

Labels:

Wednesday, January 23, 2008

Artikel: Respect The Pain!

Dengan berbagai perkembangan teknologi yang ada pada zaman sekarang ini, semakin sedikit alasan kita untuk tidak berlatih secara realistis namun tetap aman, smart, dan sehat. Berbagai jenis helm, armor, body-protector dll telah banyak tersedia di pasar lokal maupun luar negeri.

Sederhana saja rumusnya: We will fight the way we train. Apa dan bagaimana latihan kita, itulah yang akan keluar pada saat kondisi kita memerlukannya. Semakin dekat cara latihan kita kepada kondisi tersebut, semakin besar kemungkinan kita untuk suskses selamat bila sampai mengalaminya. Kita akan bertarung sebagaimana kita berlatih, itu kuncinya.

Namun demikian, setiap hal kreasi manusia pasti ada kekurangannya, termasuk mengenai realistic training dengan perlengkapan modern ini. Artikel ini bermaksud mengingatkan kita semua (yang menjalankan realistic-training) untuk tetap mengingat suatu hal yang penting untuk terus dihormati yaitu: ”Rasa Sakit”.

Saya pernah melihat beberapa kawan yang latihan sparring stick-fighting dengan armor yang lengkap. Mereka saling berbalas pukul bertubi-tubi dengan intensitas dan ketukan yang super cepat sehingga bunyinya nyaris menyaingi suara drummer Power Metal sedang latihan di tengah panas teriknya kota Surabaya.

It’s a good drill, good sparring, good sport, good training. Salah satu yang kurang dari metode sparring tsb adalah: Lack Respect for Pain!

Saya pribadi sering mengalami hal tsb dalam latihan. Pernah dalam suatu sparring vale-tudo saya jatuh kebawah, kawan saya berada di atas (mount position) dan menghujani kepala saya dengan pukulan sangat keras 4-5 kali. Karena saya menggunakan helm pelindung yang bagus (dengan cage full face), saya tidak KO dan mampu menyelamatkan diri (escape) dan berdiri lagi.

Selesai sparring, saya berpikir dan menyadari dengan penuh bahwa saya sebenarnya sudah KO bahkan pada detik awal latihan tadi. Saya sadar bahwa sebenarnya tidak perlu pukulan ke-2,3, atau 4 untuk membuat saya pingsan. Helm pelindung yang baik, menyelamatkan saya untuk tetap bisa belajar terus menerus dengan kondisi yang realistis.

Untuk menutupi kekurangan dalam metode ini maka yang kita perlukan ialah: 1)kesadaran, 2)kemampuan meng-evaluasi, dan 3)penghormatan terhadap rasa sakit.

Setiap kali kita terkena pukulan di wajah kita yang tertutup helm, setiap kali tongkat lawan menyabet tangan kita yg tertutup glove-protector, kita harus ingat bahwa sesungguhnya ada rasa sakit di sana dan hal itu perlu kita hormati dengan kesadaran.

Namun demikian kekurangan ini bukan alasan bagi kita untuk kemudian menghindari realistic-training. Walaupun metode realistic-training juga memiliki kekurangan di sana-sini, namun metode ini masih lebih baik daripada kita sekedar memukul, menendang atau menebas angin kesana-kemari. Ingatlah sekali lagi rumusnya: "Kita akan bertarung sebagaimana kita berlatih."

Semoga bermanfaat