

“Using No Way As Way,
Having No Limitation As Limitation”
Bruce Lee (1940 – 1973)
Kalimat itu tergurat tegas di balik liontin emas milik Lee Jun Fan, nama kecil Bruce Lee, salah seorang legenda dunia seni bela diri. Filosofi yang hingga kini masih digunakan oleh para penerus ajarannya itu melambangkan suatu “ekspresi total” dari seorang manusia yang membebaskan diri dari berbagai kungkungan “jurus baku” yang membatasi.
Setelah melalui pengalaman dan riset yang mendalam, Bruce Lee akhirnya menemukan bahwa manusia sebagai individu adalah jauh lebih penting daripada style ataupun doktrin bela diri apapun. Konsep yang sering disebut formless form inilah yang kemudian diterapkannya pada ajarannya dalam Jeet Kune Do.
Dalam konsepnya, Bruce Lee mengajarkan untuk membuang segala teknik yang tak berguna dan menyerap berbagai teknik yang terbukti efektif. Oleh karena itulah maka dibalik image arogannya, Bruce dikenal sebagai orang yang mau dengan rendah hati belajar pada banyak ahli bela diri seperti Gene Le Bell yang ahli grappling, atau bahkan pada Dan Inosanto yang notabene muridnya sendiri. Oleh karena itu walaupun bukan yang pertama, tapi Bruce Lee hingga kini diakui sebagai salah seorang pelopor cross training terkemuka dalam dunia seni bela diri.
Denver, 12 November 1993. Dua puluh tahun sejak wafatnya Bruce Lee. Semua mata ahli bela diri dunia terbelalak melihat berbagai pendekar tangguh dari berbagai aliran seni bela diri habis dilibas oleh seorang jagoan dari Brazil bernama Royce Gracie. Para petarung yang pada saat itu kebanyakan adalah murni stand up fighter menjadi tak berdaya, bahkan banyak yang kebingungan, menghadapi Gracie yang ahli Brazilian Jiu Jitsu, dengan permainan bawahnya (ground fighting) di lantai oktagon Ultimate Fighting Championship (UFC).
Sejak lahirnya momentum berbagai kejuaraan pertarungan campuran ini, banyak orang akhirnya menyadari bahwa berpegang teguh terhadap satu jenis doktrin aliran seni bela diri dan menafikkan gaya bertarung lain, hanya akan membuat seorang petarung menjadi semakin cepat terkapar di pertarungan satu lawan satu ini.Sejak itulah banyak petarung yang melakukan cross training sebagaimana yang dilakukan Bruce Lee semasa hidupnya.
Banyak karateka yang berlatih gulat, atau pegulat yang berlatih tinju dan lain-lain, yang kesemuanya bertujuan untuk melengkapi “ekspresi” nya dalam berbagai kondisi pertarungan. Bahkan seorang Dan Inosanto, murid terkemuka Bruce Lee yang dianggap oleh banyak pendekar kelas dunia sebagai seorang guru besar, dengan rendah hati mau berlatih lagi sebagai “anak baru” untuk belajar Brazilian Jiu Jitsu kepada Rigan Machado, jagoan Jiu Jitsu Brazil dari keluarga Machado.
Fenomena inilah yang kemudian menghasilkan produk yang disebut seni bela diri campuran (mixed martial art). Dalam mixed martial art, teknik ataupun jurus yang digunakan hanyalah yang terbukti efektif. Jangan harap bisa melihat tendangan berputar dengan kaki split sambil melayang di udara sebagaimana seringkali dipertontonkan Jean Claude Van Damme di berbagai filmnya. Kalaupun ada yang nekat melakukan gerakan itu, “keindahan” itu biasanya berakhir ironis dengan ditubruk untuk kemudian dihajar ataupun dikunci hingga menyerah.
Sebagai produk budaya pop, mixed martial art tentunya tak lepas dari cengkraman modal melalui industri showbiz-nya. Mulai dari UFC, Pride Fighting Championship (PFC), hingga kini di Indonesia lahir TPI Fighting Championship (TFC). Dan sebagaimana terjadi pada olahraga tinju, perdebatan tentang kekerasan, kemanusiaan, dan lain-lainnya seperti biasa muncul di kalangan masyarakat.
Namun demikian perlu dipahami bahwa fenomena mixed martial art bukanlah sama dengan, dan jauh lebih luas dari sekedar kekerasan yang ditampilkan di TV yang pasti telah terkontaminasi oleh showbiz. Fenomena mixed martial art merupakan satu langkah kecil lain dalam pencarian “ekspresi total” seorang seniman bela diri.
Budaya untuk berpikiran terbuka juga berkembang di kalangan petarung mixed martial art ini. Proses saling belajar dan saling berguru menjadi sebuah proses yang sangat biasa di kalangan para petarung ini. Gengsi perguruan, bahkan posisi sebagai guru besar tidak pernah menghalangi para petarung ini untuk mencari gaya pertarungan yang paling efektif.
Namun demikian kelahiran mixed martial art ini juga melahirkan perdebatan sengit di dunia seni bela diri. Matt Thornton, Presiden dari Straight Blast Gym yang merupakan salah satu sasana latihan seni bela diri yang mengusung “ideologi” mixed martial art misalnya menyatakan bahwa berbagai pola gerakan terstruktur yang dilatih sama berulang kali yang disebutnya sebagai Death Pattern tidaklah berguna untuk dipraktekkan. Menurut Matt berbagai jurus tersebut haruslah dilatih dalam alive training yang salah satu wujudnya ialah dengan latih tanding (sparring). Semuanya harus terbukti efektif jika digunakan dalam pertarungan beneran.
Lalu apakah fenomena ini kemudian mengakibatkan bahwa menjadi sia-sia bagi seorang Karateka untuk melatih “Kata”-nya, pendekar silat yang melatih “Jurus”nya, Taekwondoin yang melatih “Taegeuk”-nya, atau jago kungfu yang melatih “Chi Sao”-nya?
Hal ini tentunya tidaklah mudah untuk dijawab begitu saja. Tergantung kembali kepada pandangan sang pendekar terhadap tujuannya berlatih seni bela diri. Apakah seni bela diri diartikan murni sebagai art of combat ataupun art of survival? Ataukah dianggap memilki makna yang lebih luas dari itu, yang berkaitan dengan filosofi atau bahkan religi. Karena sebagaimana banyak dipahami oleh seniman bela diri :
“There is no better martial art, there is only greater martial artist”