JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Wednesday, December 28, 2005

Artikel: Tentang Teknik Cekikan (Choke)















Ada banyak cekikan leher yang bisa dilakukan oleh seorang petarung, mulai dari cekikan dengan genggaman (ageumson jireugi-TKD), dengan penekanan jari/cakar (silat, kungfu), dengan kaki (triangle choke/sankaku jime), dengan baju kimono/Gi (collar choke), atau cekikan dari belakang / rear naked choke (Judo, BJJ) dll.

Namun demikian secara umum sebetulnya berbagai macam teknik itu memiliki kesamaan. Sasaran dari teknik-teknik tersebut pada dasarnya ada 2:

1. Penekanan pada windpipe atau trachea
2. Penekanan pada carotid artery

Perbedaan di antara keduanya adalah:

Penekanan pada windpipe / trachea bertujuan menghentikan aliran udara ke paru-paru sementara penekanan pada carotid artery bertujuan untuk menghentikan aliran darah dan oksigen ke otak.

Untuk lebih jelasnya silahkan baca-baca berbagai artikel soal ini di : www.bjj.org atau www.judoinfo.com

Sepengetahuan saya jenis cekikan yang melakukan penekanan pada windpipe atau trachea sudah banyak dilarang di berbagai kompetisi karena bisa mengakibatkan cedera permanen atau bahkan kematian.

untuk jenis penekanan pada carotid artery, biasanya dalam 10 detik cekikan si korban akan pingsan dan 20 detik kemudian akan siuman. Karena jenis cekikan ini menghentikan aliran darah dan oksigen ke otak, mengakibatkan si otak berhenti berfungsi selama beberapa detik, sehingga bisa saja si korban kehilangan kontrol atas saluran kencing (ngompol), ngiler, muntah dll

Saran saya untuk yang ingin berlatih teknik choke adalah:

1. Lakukan dengan pengawasan instruktur yang kompeten
2. Tap out segera bila choke sudah masuk. Jangan tunda ini, karena cekikan seperti Rear Naked Choke tidaklah sakit dalam artian sakit seperti armbar dll, tanpa terasa (10 detik maksimal) anda akan tertidur di atas matras.
3. Bila ada partner latihan anda choked out, setelah 20 detik tidak bangun (setelah dipanggil, dicubit, siram air, tampar2, atau berbagai metode membangunkan yang lain) segera panggil bantuan medis dan lakukan CPR selagi menunggu.

semoga bermanfaat

Gossip: Hollywood Fighting

Setiap kali kita menyaksikan aktor film laga beraksi di film, seringkali kita bertanya-tanya, "Apakah mereka bisa bertarung secantik ini dalam kehidupan nyata?".

Nah, tulisan ini bukanlah kumpulan kisah pertarungan bintang film dalam kehidupan nyata, melainkan hanya merupakan kumpulan gossip yang banyak beredar di internet yang pernah saya baca soal kejadian yang menimpa para selebriti ini. Soal kebenarannya, silahkan cek sendiri.

Sylvester Stallone

Si Rocky ini baru saja Knock Out dalam shooting film Rocky VI. Terpukul secara tidak sengaja, "Rocky" tergeletak KO tanpa ada kru yang menyadari (dikira bagian dari acting). lebih lengkap bisa lihat di http://news.softpedia.com/news/Sylvester-Stallone-Knocked-Down-On-Set-15060.shtml

Van Damme

Entah kenapa, tendangan memutar sambil terbang milik aktor yang dijuluki muscles from brussels itu tidak keluar pada saat diperlukan. Di sebuah Bar, sang Kick-Boxer, dipukul jatuh oleh mantan bodyguardnya yang bernama chuck zito tanpa sempat melakukan perlawanan. lebih lengkap lihat di http://www.eonline.com/News/Items/0,1,2498,00.html

Steven Seagal

Hati-hati dengan orang yang namanya Gene Lebell (http://www.genelebell.com/) , pegulat dan pejudo yang gemar menggunakan judo-Gi berwarna pink ini, walaupun sudah tua, masih ampuh teknik-teknik kunciannya.Konon aktor Steven Seagal pernah merasakannya.

Gene Lebell, yang juga koreografer fighting sekaligus stuntman sedang asyik mengajari para rekannya (stuntman) teknik kuncian Rear Naked Choke (RNC). Steven Seagal melihat hal tersebut dan mengatakan bahwa choke itu tidak mungkin berhasil dilakukan terhadap dirinya.

Gene Lebell dengan senang hati melakukan RNC dan langsung saja Seagal pingsan. Ketika bangun Steven Seagal berkilah bahwa dirinya belum siap dan minta diulang lagi. Gene Lebell si Judoka tua merespon permintaan itu dan segera melakukan RNC kepada Seagal.

Cekikan yang kedua ini konon lebih mantap, sehingga digossipkan seagal sampai pingsan lama dan kehilangan kontrol atas saluran kencingnya sehingga secara tidak sadar "ngompol" di atas matras.

Ada banyak versi atas cerita ini, tapi semuanya menyatakan bahwa Seagal choked out by Gene Lebell, dan Lebell dipaksa menandatangani kontrak agar tidak menyebarkan cerita ini. Namun demikian karena kejadiannya terjadi di set pembuatan film, banyak kru yang melihat dan menyebarkan gossip ini.

salah satu diskusi soal ini bisa dilihat di:

http://p077.ezboard.com/fsfuksubmissionfightingukfrm1.showMessage?topicID=266.topic

benar atau tidak gossip-gossip di atas? Silahkan cari tahu sendiri... dan kalau sudah tahu tolong kabari saya di blog ini...

Tuesday, December 27, 2005

Iklan: MMA Helmet and Gloves









Bagi yang ingin melakukan latihan beladiri realistis secara aman, kini anda bisa membeli MMA helmet dan MMA gloves.

Helm dengan besi rangka pelindung muka dan sarung tinju MMA ini sangat cocok dan sangat membantu dalam latihan, khususnya dalam latihan full contact sparring atau Vale Tudo.

Apabila anda berminat, silahkan hubungi saya via email di ery@pshk.org

Harga:

MMA Helmet: Rp. 420.000,-
MMA Gloves: Rp. 200.000,-

So...segera beli.... pakai langsung helmet 'n gloves-nya.....

ARE YOU READY? LET'S GET IT ON!!!

Monday, December 26, 2005

Artikel: Prinsip-prinsip dalam Menghadapi Lawan yang Bersenjata

Banyak guru beladiri yang gegabah dalam memberikan pelajaran teknik-teknik tangan kosong vs senjata kepada murid-muridnya. Tanpa memberian dasar-dasar prinsip yang cukup, banyak guru yang mengajarkan teknik-teknik tangan kosong vs senjata seolah-olah teknik itu sangat mudah dan 100% pasti berhasil.

Sang guru biasanya akan memerintahkan si murid untuk melakukan serangan dengan pisau (mainan) nya, biasanya serangan menusuk ke arah perut, lalu ia akan mempraktekkan suatu teknik yang "anggun" dengan mengunci tangan si murid untuk kemudian mengambil alih 'pisau' nya.

Sang murid biasanya terkesima, dan setelah melatih teknik tersebut berulang kali, ia merasa bahwa dirinya kini telah siap apabila sewaktu-waktu menghadapi lawan bersenjata.

Menurut saya hal ini penting untuk diluruskan, sebelum (lebih banyak) memakan korban.

Beberapa prinsip yang harus dipahami dalam menghadapi lawan bersenjata adalah:

1. Lari, kabur, hindari pertarungan
2. Apabila lari tidak mungkin, carilah "senjata" tandingan (batang kayu/besi, kursi, payung dll)
3. Apabila lari tidak mungkin, senjata tandingan juga tidak ada, maka barulah hadapi senjata tersebut dengan tangan kosong. Segera tangkap dan netralisir tangan yang memegang senjata. Besar kemungkinan badan anda akan tergores atau bahkan mungkin lebih parah. Namun demikian jangan sampai tergores/terpotong pada bagian-bagian urat nadi di pergelangan tangan, leher dll.

Jadi, tidak peduli apa warna sabuk anda dalam aliran beladiri anda (sabuk hitam dan XI, sabuk pelangi dll), apabila menghadapi lawan dengan senjata, saran saya, langkah pertama yang harus anda pertimbangan adalah....Lariiiiiii!!!!!!

semoga bermanfat

Friday, December 23, 2005

Artikel: EMPTY YOUR CUP - a.k.a - Cross training!!!



Tidak semua orang mampu dan mau melakukan cross training.

Banyak orang yang sudah merasa nyaman dengan posisi-nya sebagai guru, suhu, sifu, simpai, sensei, sabeum dll sehingga merasa enggan dan gengsi untuk kembali berkeringat untuk berlatih hal-hal baru.

Atau ada juga sebagian orang yang fanatik terhadap aliran bela dirinya dan merasa alirannya merupakan aliran terhebat yang tidak memiliki kekurangan sama sekali

Cross training memerlukan kebesaran hati dan keterbukaan pikiran. Open Mind! itu kuncinya, tetaplah berpikiran terbuka terhadap hal-hal baru

Ada satu kisah falsafah zen yang sering sekali dikutip oleh Bruce Lee dalam kaitannya dengan keterbukaan pikiran:

"If you do not first empty your cup, how can you taste my cup of tea?"

Penggalan kalimat itu diambil dari kisah dimana ucapan tersebut sebetulnya adalah sindiran dari seorang Guru Zen kepada seorang pelajar yang datang ingin belajar Zen kepadanya.Ketika Guru Zen tsb menyampaikan ajaran2 Zen kepadanya, si pelajar selalu memotong omongannya dan membantah dengan pendapat2 yg diyakininya.

Guru Zen berhenti berbicara dan menuangkan isi cangkir teh-nya yg penuh ke dalam cangkir teh si pelajar yg juga penuh. Tentu saja teh di cangkir si pelajar jadi luber, si pelajar bilang “cukup, cukup, luber tuh !!!”

Guru Zen Bilang:

"Like this cup, you are full of your own opinions,"
"If you do not first empty your cup, how can you taste my cup of tea?

Hal seperti ini sering sekali terjadi dalam dunia seni bela diri. Saya pribadi sering mengalaminya misalnya dalam mengajarkan suatu teknik kepada seseorang yang memiliki background beladiri sebelumnya. Tanpa berusaha mempelajari dan memahami teknik itu sendiri, orang yang tidak "open mind" biasanya akan langsung membantah dan secara defensif membela aliran beladiri asalnya, dan ujung-ujungnya harus diselesaikan dengan sparring.

Seharusnya kita mampu dan mau berusaha mempelajari dan memahami teknik-teknik beladiri baru, walaupun hal tersebut berbeda atau bahkan bertentangan dengan aliran beladiri yang selama ini kita pelajari.

So....

Empty your Cup.....

Keep Open Mind.....

and.... Cross Train !!!

semoga bermanfaat

catatan: Sebagian besar pemikiran ini sudah pernah saya tuliskan beberapa tahun lalu di suatu mailing list. Pada saat itu ide untuk berpikiran terbuka dan cross training mendapat tentangan keras dan defensif dari segelintir orang dengan berusaha menjelaskan bahwa aliran beladiri miliknya sudah lengkap sekali sehingga tidak perlu cross training. Namun demikian kini tampaknya perdebatan sudah tidak sealot dulu lagi karena banyak orang Indonesia sudah cross training, bahkan orang yang bersangkutan pun kini sudah beberapa kali posting di mailing list tsb tentang berbagai aliran bela diri, teknik-teknik MMA, atau teknik-teknik combat self defense dll sehingga nampaknya dia kini sudah berpikiran terbuka, atau mungkin bahkan sudah melakukan cross training. Salut!

Thursday, December 22, 2005

Artikel: Strike When You Can --- Grapple When You Have To

Lawan mencengkram kerah baju anda, apa yang akan anda lakukan?

Bagi setiap orang yang sudah cukup lama berlatih seni beladiri, tentunya sudah tahu banyak sekali teknik untuk menghadapi situasi ini. Mulai dari kuncian jari, kuncian pergelangan tangan, arm bar, bantingan judo, serangan lutut, palm strike ke arah dagu, tusukan mata dll.

Merupakan hal yang baik bagi kita untuk mengetahui beberapa teknik sebagai alternatif untuk berbagai kondisi.

Namun demikian prioritas tetaplah perlu. Untuk situasi pertarungan hidup mati, Tony Blauer dari Blauer Tactical System memberikan suatu konsep yaitu:

STRIKE WHEN YOU CAN, GRAPPLE WHEN YOU HAVE TO

jadi, utamakanlah striking (pukul, sikut, lutut, tendang, headbut dll), sementara prioritas kedua adalah grappling/wrestling (kuncian, clinch, trapping, throw, takedown), lakukan grappling/wrestling hanya bila kondisi memerlukan hal itu.

semoga bermanfaat


Wednesday, December 21, 2005

Artikel: Perlukah belajar ground fighting?


Pada awal-awal kemunculan Mixed Martial Art (MMA), banyak orang berpikiran sempit yang mencibir ketika melihat pertandingan MMA.

"Ah...ground fighting efektif hanya untuk 1 lawan 1 saja....bagaimana kalau untuk street fighting? bagaimana kalau keroyokan? apa tidak khawatir diinjak-injak oleh lawan-lawan yang lain?"

Dengan argumen itu, kemudian banyak orang yang malas latihan ground fighting

Perlukah belajar ground figting?

Perlu!!! , sebagaimana telah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya, ground fighting adalah salah satu jarak pertarungan yang harus dikuasai seorang petarung.

Bagi orang-orang yang tidak berminat naik ring dan hanya berminat pada aspek self-defense untuk di jalanan juga tetap sangat perlu untuk belajar ground fighting.

Tujuan belajar ground fighting untuk selamat di jalanan adalah :

UNTUK MENGETAHUI DAN MAMPU KELUAR DARI POSISI YANG BERBAHAYA APABILA TERJATUH DALAM PERTARUNGAN DI JALANAN

jadi beberapa hal yang penting untuk dipahami dalam hal ground fighting untuk di jalanan adalah:

1. Jangan sampai terjatuh, apalagi menjatuhkan diri...sebisa mungkin berdiri untuk lari ataupun mempertahankan diri

2. Kalau sampai terjatuh (terpeleset, diseruduk, atau dibanting dll), SELAMATKAN DIRI ANDA (DEFENSE! lindungi kepala dan organ vital!) DAN SEGERA CARI JALAN KELUAR UNTUK BERDIRI LAGI, ini bukan turnamen BJJ!!! jangan buang waktu untuk cari atau set-up kuncian


Kalau kita tidak berlatih ground fighting, akan sulit sekali dan kecil kemungkinannya bagi kita untuk bisa menyelamatkan diri dari posisi di bawah dalam pertarungan jalanan.

Jadi, jangan ragu lagi, ayo latihan ground fighting!!!

Artikel: Jadilah Black Belt dalam semua jarak pertarungan!




Sudah banyak yang mafhum tentunya bahwa dalam pertarungan tangan kosong (1 lawan 1) ada 4 jarak pertarungan yang penting untuk dikuasai yaitu:
1. Jarak tendang
2. Jarak Pukul
3. Jarak clinch
4. Jarak Ground Fighting

Nah, untuk menjadi fighter yang lengkap kita harus mau berlatih keras untuk menguasai jarak-jarak pertarungan tersebut.

Seseorang yang hanya bermodalkan tendangan, tentunya akan kelabakan ketika harus bertarung dalam ruangan yang sempit (di gang sempit, dalam lift dll). Sementara orang yang hanya bermodalkan ground fighting tentunya akan bernasib naas ketika harus menghadapi situasi keroyokan.

Khusus untuk ground fighting, kita harus menjadi blackbelt dalam semua posisi (top game, bottom game, offensive, deffensive). Banyak orang yang "jago" ketika bermain top game, tapi langsung keok ketika mendapat posisi untuk bermain bottom game, atau sebaliknya.

Target-target tersebut tentunya bersifat sangat ideal, pastinya tidak ada orang yang mampu menjadi ahli di semua jarak pertarungan. Namun demikian target itu haruslah menjadi visi kita dalam berlatih dan terus berlatih lebih keras.

Friday, December 16, 2005

Artikel: Tap Out is Thank You



Sejak Jigoro Kano dengan Judo-nya membuat metode latihan yang efektif dan aman, berbagai teknik kuncian jiujitsu kuno yang sebelumnya tidak dapat dilatih karena terlampau berbahaya menjadi memungkinkan untuk dilatih, bahkan dipertandingkan

Tap Out, merupakan salah satu instrumen berlatih grappling yang sangat berguna. Tanpa instrumen Tap Out, mungkin banyak murid judo, jiujitsu, ataupun submission wrestling yang harus patah tangannya atau pingsan dicekik sebelum menguasai teknik-teknik kuncian tersebut.

Tap Out juga merupakan suatu hal yang sangat penting untuk melatih kita membunuh EGO dalam berlatih.

Satu Rumus yang selalu saya sampaikan kepada rekan yang baru mulai berlatih adalah:

TAP OUT = THANK YOU

Ya, betul, jadikan tap out sebagai terimakasih kita kepada partner latihan/pertandingan yang telah menunjukan kesalahan dan kekurangan dalam teknik grappling kita.

Biasakan setelah Tap Out, lakukan evaluasi terhadap kekurangan-kekurangan kita, mengapa kita tadi Tap Out, apakah defense kita lemah? di bagian mana? apa yang harus kita perbaiki?

Dengan memandang Tap Out sebagai ungkapan terimakasih akan membuat kita selalu merasa tenang dan fun dalam berlatih.

Pengalaman pribadi saya, 4 tahun lalu saya pernah tap out 8 kali berturut-turut pada orang yang sama dalam hitungan menit. Namun dengan prinsip bahwa tap out adalah thank you, saya bisa menghadapi fakta kekalahan dengan kritis untuk terus melakukan perbaikan. Beberapa minggu lalu saya sparring dengan orang yang sama, dan saya hanya tap out 1 kali, dan bisa bertahan lebih lama (masih kalah juga sih hahahaha).

Jadi, jangan sekali-kali ragu apalagi gengsi untuk Tap Out dalam berlatih. Rasa gengsi untuk Tap Out tidak hanya membahayakan fisik kita sendiri (tangan patah, pingsan dll), tapi juga akan membuat kita terhambat dalam proses belajar.

Jadi...jangan ragu untuk Tap Out.... Tap..Tap..Tap....KRAAAAKKK....aaaagghhh shit it's too late

Artikel: Belajar Bela Diri dan Belajar Berenang











Saya bermaksud untuk menyampaikan sebuah analogi, antara belajar bela diri dan belajar berenang

Belajar bela diri tanpa sparring dan realistic training (dengan lawan yang melawan) bagaikan belajar berenang tanpa nyemplung ke dalam air, hanya senam-senam gerak badan di pinggir kolam renang saja.

Belajar bela diri dengan realistic training (e.g. sparring with resisting opponents) bagaikan belajar berenang di kolam renang yang nyaman

Bertarung di jalanan bagaikan tercebur di laut dalam di tengah lautan luas, tidak tahu apa yang bisa terjadi (badai, ikan hiu dll)

Jadi, yakinlah...tidak ada satu sistem bela diri-pun yang mampu menjamin keselamatan kita dalam pertarungan di jalanan. Sebagaimana tidak ada satu sistem ataupun teknik berenang yang mampu menjamin keselamatan kita di tengah laut luas yang bisa jadi ada Hiu ataupun badai

Namun demikian, logis saja, orang yang sering berlatih berenang dengan nyebur ke kolam, lebih besar kemungkinannya untuk selamat di laut lepas dibanding dengan orang yang hanya senam gerak badan di pinggir kolam renang

semoga bermanfaat

Artikel: Dongkol berdebat? Resapi puisi Dan Inosanto!


Selama lebih dari 15 tahun berlatih dan bergaul dengan komunitas seniman bela diri, saya sudah cukup kenyang dengan perdebatan tentang berbagai metode latihan bela diri (tradisional vs modern), ataupun antara olahraga vs pertarungan sesungguhnya dll.

Argumen perdebatan-perdebatan itu biasanya tidak jauh berbeda satu sama lain. Saya coba kelompokkan menjadi 3 kelompok sbb:

1) Tradisional: Belajar seni bela diri bukan semata-mata untuk bertarung, melainkan untuk memahami dan meleburkan diri dengan alam semesta ini. Kami tidak melakukan latih tanding (sparring) dan tidak ikut kompetisi beladiri karena teknik-teknik kami terlalu berbahaya dan mematikan untuk dipertandingkan. Oleh karena itu metode latihan kami adalah berlatih berbagai macam urutan langkah dan jurus. Hal itu kami rasa lebih dari cukup, apabila sewaktu-waktu kami diserang, kami yakin berbagai urutan jurus yang kami pelajari dan pahami akan bisa keluar dengan sendirinya. Apabila jurus-jurus tersebut gagal untuk digunakan, berarti kami sendiri yang kurang memahami makna dan maksud pencipta jurus itu, oleh karena itu kami harus mengulangi latihan jurus itu beberapa tahun lagi.

2) Sport oriented: Kami juga berlatih jurus-jurus sebagai teknik dasar kami. Namun ketika melakukan sparring kami harus menyesuaikan teknik-teknik dasar tersebut. Kami setuju dan paham akan gunanya sparring namun sebaiknya sparring hanya dilakukan dengan aturan yang ketat. Bagi beladiri yang fokus kepada tendangan, sebaiknya tidak boleh memukul dalam sparring. Bagi yang foks pada kuncian, sebaiknya tidak menendang atau memukul dst. Kami percaya kalau kami harus bertarung di jalan maka sang lawan akan bisa memahami aturan-aturan tersebut.

3) Realistic: Kami hanya melakukan vale-tudo, metode latihan kami sangat realistis, kami pukul-pukulan sampai mampus pada setiap sesi latihan. Sudahlah, kepala saya pusing habis latihan kena pukul, jangan banyak berdebat lagi...tenaga dalam itu bullshit....sudahlah...ayo maju sini...kita tarung! lets get it on!!!

Kira-kira begitulah beberapa tipe argumen yang sering saya temui selama ini, dan saya akui, saya pernah berada pada setiap sisi opini tersebut dan pernah membelanya mati-matian.

Percayalah...apapun "keyakinan" beladiri anda... lawan berdebat anda tidak akan "insyaf". Buat sebagian besar orang, aliran bela diri sudah seperti agama, yang harus dibela mati-matian.

Nah...Untuk itulah saya kutipkan di bawah ini puisi dari Dan Inosanto. Coba resapi dan pahami maknanya, mudah-mudahan bisa mengobati hati anda yang baru mulai mencoba-coba berdebat dengan aliran bela diri yg berbeda dengan anda

-----
We are all climbing different paths through the mountain of life,
and we have all experienced much hardship and strife.

There are many paths through the mountain of life,
and some climbs can be felt like the point of a knife.

Some paths are short and others are long,
who can say which path is right or wrong?

The beauty of truth is that each path has its own song,
and if you listen closely you will find where you belong.

So climb your own path true and strong,
but respect all other truths for your way for them could be wrong.

-Dan Inosanto

Artikel: Tentang Mixed Martial Arts







“Using No Way As Way,

Having No Limitation As Limitation”

Bruce Lee (1940 – 1973)

Kalimat itu tergurat tegas di balik liontin emas milik Lee Jun Fan, nama kecil Bruce Lee, salah seorang legenda dunia seni bela diri. Filosofi yang hingga kini masih digunakan oleh para penerus ajarannya itu melambangkan suatu “ekspresi total” dari seorang manusia yang membebaskan diri dari berbagai kungkungan “jurus baku” yang membatasi.

Setelah melalui pengalaman dan riset yang mendalam, Bruce Lee akhirnya menemukan bahwa manusia sebagai individu adalah jauh lebih penting daripada style ataupun doktrin bela diri apapun. Konsep yang sering disebut formless form inilah yang kemudian diterapkannya pada ajarannya dalam Jeet Kune Do.

Dalam konsepnya, Bruce Lee mengajarkan untuk membuang segala teknik yang tak berguna dan menyerap berbagai teknik yang terbukti efektif. Oleh karena itulah maka dibalik image arogannya, Bruce dikenal sebagai orang yang mau dengan rendah hati belajar pada banyak ahli bela diri seperti Gene Le Bell yang ahli grappling, atau bahkan pada Dan Inosanto yang notabene muridnya sendiri. Oleh karena itu walaupun bukan yang pertama, tapi Bruce Lee hingga kini diakui sebagai salah seorang pelopor cross training terkemuka dalam dunia seni bela diri.

Denver, 12 November 1993. Dua puluh tahun sejak wafatnya Bruce Lee. Semua mata ahli bela diri dunia terbelalak melihat berbagai pendekar tangguh dari berbagai aliran seni bela diri habis dilibas oleh seorang jagoan dari Brazil bernama Royce Gracie. Para petarung yang pada saat itu kebanyakan adalah murni stand up fighter menjadi tak berdaya, bahkan banyak yang kebingungan, menghadapi Gracie yang ahli Brazilian Jiu Jitsu, dengan permainan bawahnya (ground fighting) di lantai oktagon Ultimate Fighting Championship (UFC).

Sejak lahirnya momentum berbagai kejuaraan pertarungan campuran ini, banyak orang akhirnya menyadari bahwa berpegang teguh terhadap satu jenis doktrin aliran seni bela diri dan menafikkan gaya bertarung lain, hanya akan membuat seorang petarung menjadi semakin cepat terkapar di pertarungan satu lawan satu ini.Sejak itulah banyak petarung yang melakukan cross training sebagaimana yang dilakukan Bruce Lee semasa hidupnya.

Banyak karateka yang berlatih gulat, atau pegulat yang berlatih tinju dan lain-lain, yang kesemuanya bertujuan untuk melengkapi “ekspresi” nya dalam berbagai kondisi pertarungan. Bahkan seorang Dan Inosanto, murid terkemuka Bruce Lee yang dianggap oleh banyak pendekar kelas dunia sebagai seorang guru besar, dengan rendah hati mau berlatih lagi sebagai “anak baru” untuk belajar Brazilian Jiu Jitsu kepada Rigan Machado, jagoan Jiu Jitsu Brazil dari keluarga Machado.

Fenomena inilah yang kemudian menghasilkan produk yang disebut seni bela diri campuran (mixed martial art). Dalam mixed martial art, teknik ataupun jurus yang digunakan hanyalah yang terbukti efektif. Jangan harap bisa melihat tendangan berputar dengan kaki split sambil melayang di udara sebagaimana seringkali dipertontonkan Jean Claude Van Damme di berbagai filmnya. Kalaupun ada yang nekat melakukan gerakan itu, “keindahan” itu biasanya berakhir ironis dengan ditubruk untuk kemudian dihajar ataupun dikunci hingga menyerah.

Sebagai produk budaya pop, mixed martial art tentunya tak lepas dari cengkraman modal melalui industri showbiz-nya. Mulai dari UFC, Pride Fighting Championship (PFC), hingga kini di Indonesia lahir TPI Fighting Championship (TFC). Dan sebagaimana terjadi pada olahraga tinju, perdebatan tentang kekerasan, kemanusiaan, dan lain-lainnya seperti biasa muncul di kalangan masyarakat.

Namun demikian perlu dipahami bahwa fenomena mixed martial art bukanlah sama dengan, dan jauh lebih luas dari sekedar kekerasan yang ditampilkan di TV yang pasti telah terkontaminasi oleh showbiz. Fenomena mixed martial art merupakan satu langkah kecil lain dalam pencarian “ekspresi total” seorang seniman bela diri.

Budaya untuk berpikiran terbuka juga berkembang di kalangan petarung mixed martial art ini. Proses saling belajar dan saling berguru menjadi sebuah proses yang sangat biasa di kalangan para petarung ini. Gengsi perguruan, bahkan posisi sebagai guru besar tidak pernah menghalangi para petarung ini untuk mencari gaya pertarungan yang paling efektif.

Namun demikian kelahiran mixed martial art ini juga melahirkan perdebatan sengit di dunia seni bela diri. Matt Thornton, Presiden dari Straight Blast Gym yang merupakan salah satu sasana latihan seni bela diri yang mengusung “ideologi” mixed martial art misalnya menyatakan bahwa berbagai pola gerakan terstruktur yang dilatih sama berulang kali yang disebutnya sebagai Death Pattern tidaklah berguna untuk dipraktekkan. Menurut Matt berbagai jurus tersebut haruslah dilatih dalam alive training yang salah satu wujudnya ialah dengan latih tanding (sparring). Semuanya harus terbukti efektif jika digunakan dalam pertarungan beneran.

Lalu apakah fenomena ini kemudian mengakibatkan bahwa menjadi sia-sia bagi seorang Karateka untuk melatih “Kata”-nya, pendekar silat yang melatih “Jurus”nya, Taekwondoin yang melatih “Taegeuk”-nya, atau jago kungfu yang melatih “Chi Sao”-nya?

Hal ini tentunya tidaklah mudah untuk dijawab begitu saja. Tergantung kembali kepada pandangan sang pendekar terhadap tujuannya berlatih seni bela diri. Apakah seni bela diri diartikan murni sebagai art of combat ataupun art of survival? Ataukah dianggap memilki makna yang lebih luas dari itu, yang berkaitan dengan filosofi atau bahkan religi. Karena sebagaimana banyak dipahami oleh seniman bela diri :

“There is no better martial art, there is only greater martial artist”

Profile: Ery Nugroho



ERY NUGROHO
Jeet Kune Do Instructor
Tae Kwon Do Black Belt
Pencak Silat Practitioner
Brazilian Jiu Jitsu Student