JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Monday, January 30, 2006

Artikel: Brazilian Judo?


Terus terang artikel ini idenya sama sekali tidak orisinil. Sudah banyak tulisan tersebar di buku maupun internet soal sejarah ataupun perbandingan antara Judo dan BJJ.

Tapi saya pikir nggak ada salahnya mengulas sedikit soal ini sekali lagi, lagipula sekarang Brazilian Jiu Jitsu baru mulai merambah Indonesia.

Semua Berawal dari Kano

Jigoro Kano adalah seorang jenius senibeladiri. Ia mendapatkan sertifikat sebagai instruktur dari Tenjin Shinyo Ryu Jujutsu (kalau saya nggak salah, Prof. Kano instruktur jujutsu aliran Kito-Ryu juga). Dalam prosesnya sebagai pelatih jujutsu, Prof. Kano melakukan evaluasi dan menemukan bahwa metode pengajaran jujutsu klasik tidak efektif karena semata-mata hanya melatih dengan latihan Kata.

Prof. Kano kemudian menciptakan Judo (awalnya masih sering dikenal sebagai Kano Jujutsu), dengan metode latihan hasil dari pemikirannya. "Ju" pada Judo merupakan kata yg sama dengan "Ju" pada Jujutsu, berarti "lembut". (Jiu-Jitsu merupakan kesalahan tulis yg telah menjadi baku pada saat ini).Kano membuang beberapa teknik yg tidak bisa dilatih secara aman, dan kemudian menciptakan metode yg mengutamakan Randori (sparring).

Judo mendapatkan nama harumnya sejak pertarungan legendaris Judo Vs Jujutsu yang diselenggarakan oleh Tokyo Metropolitan Police tahun 1886. Judo yang menurunkan 15 petarung terbaiknya nyaris menyapu habis (hanya 2 kalah) kemenangan terhadap jujutsu yg pada saat itu didominasi oleh aliran YoshinRyu. Gawang Kodokan Judo pada saat itu dijaga ketat oleh 4 Dewa: Tomita Tsunejiro, Yokoyama Sakujiro, Yamashita Yoshikazu, dan Saigo Shiro (Kisah tentang 4 dewa Judo ini akan saya tuliskan kalau ada waktu).

Kemenangan Judo tak bertahan lama, beberapa waktu kemudian terjadi pertarungan antara Judo Vs Fusen Ryu Jujutsu. Judo kalah telak, karena semua petarung Fusen Ryu adalah ahli ground fighting. Prof. Kano kemudian meminta Mataemon Tanabe, seorang guru Fusen Ryu yg menantangnya, untuk mengajarkan newaza (ground fighting) di Kodokan Judo. Hingga kini teknik2 hasil turunan dari Tanabe bisa dilihat pada perguruan Kosen Judo yg fokus kepada newaza.

Pada saat inilah Maeda, guru dari keluarga Gracie, belajar pada Prof. Kano. Maeda termasuk murid andalan Prof. Kano sehingga ia diminta untuk menemani Tomita Tsunejiro untuk melakukan promosi Judo ke Amerika Serikat. Suatu kejadian membuat Maeda kecewa, di Amerika, di Akademi West Point tepatnya, Tomita dan Maeda dihadapkan pada seorang pegulat. Sebagai junior, Maeda maju terlebih dahulu dan berhasil mengunci tangan sang pegulat. Si pegulat menyerah. Namun penonton tidak mengerti apa yg terjadi dan kemudian meminta Tomita, yg dianggap lebih jago, untuk turun ke gelanggang. Tomita pada saat itu sudah bukan lagi petarung yg hebat sehingga tidak berkutik ketika didominasi (pinned) oleh sang pegulat dan terpaksa menyerah. Tomita dan Maeda pulang dengan rasa malu.

Maeda lalu ngacir dan menjalani jalannya sendiri. Ia melanglang buana. Pertarungan- demi pertarungan ia lalui, hingga ia dijuluki conde Koma (count combat). Konon dari ratusan pertarungannya ia hanya pernah dikalahkan 2 kali yaitu dalam kejuaraan dunia "catch as catch can" di London. Akhirnya ia "terdampar" di Brazil dan menurunkan ilmunya kepada keluarga Gracie.

Brazilian Judo?

Dari kisah di atas bisa dilihat bahwa memang ada kedekatan yg luar biasa antara Judo dan BJJ. Karena Maeda adalah murid dari Jigoro Kano, bisa dibilang bahwa keluarga Gracie adalah cucu murid dari Prof. Kano.

Namun demikian ada juga bantahannya. Maeda yg menjalani jalannya sendiri dengan melakukan pertarungan2 bebas sebetulnya telah keluar dari Kodokan Judo. Konon ia juga telah memasukan berbagai teknik2 berbahaya yg sebelumnya dibuang Prof. Kano kedalam ilmu jujutsu-nya (Maeda memilih menamakan kembali ilmunya jujutsu daripada judo). Belum lagi ada banyak kontribusi keluarga Gracie dalam perkembangan BJJ yg mengakibatkan BJJ semakin bisa dibedakan dari Judo.

Satu hal yg pasti ialah fakta bahwa kini BJJ dan Judo telah berkembang sebagai seni yg berbeda. Mereka merupakan senibeladiri yg serupa tapi tak sama. Judo dan BJJ bagaikan dua saudara yang lama tak berjumpa. Satu-satunya keluarga dekat BJJ adalah Kosen Judo yg teknik-teknik dan orientasi bertarungnya luar biasa mirip satu sama lain.

semoga ada manfaatnya

Tuesday, January 24, 2006

Artikel: Kicks for Street Fight


Dari 4 jarak pertarungan tangan kosong (kick, punch, clinch, ground), jarak tendang merupakan jarak terjauh.

Dalam street fight, jarak tendang sebetulnya jarak dimana kita bisa memilih: kabur, atau segera masuk menyerang.

Kalau kita memutuskan untuk masuk dan menyerang, maka hanya ada beberapa jenis tendangan yang berani saya rekomendasikan untuk dipakai:

1. Groin Kick
Tendangan lurus ke depan (snap front kick) ke arah kemaluan lawan merupakan alat yg handal untuk memulai ataupun mengakhiri pertarungan. Gunakan punggung kaki ataupun tulang kering untuk menghajar kemaluan lawan. Kita bisa menggunakan kaki belakang ataupun kaki depan, namun menggunakan kaki depan (dengan pendulum step) memiliki peluang lebih besar untuk berhasil karena tidak mudah terbaca lawan dan sangat cepat. Asal tahu saja, jurus yg dikenal sebagai "tendangan tanpa bayangan" (Mo Ying Geuk) milik Wong Fei Hung dari Hung Gar Kungfu sebetulnya adalah tendangan lurus kedepan dengan pengalihan perhatian lawan dengan tangan. Tendangan Tanpa Bayangan versi Jet-Li (tendangan terbang dengan melakukan tendangan beruntun) adalah versi pembodohan dari film kungfu. Tendangan tanpa bayangan adalah tendangan yg sederhana, namun karena ada pra kondisi yg tepat, tendangan ini bisa dilakukan tanpa lawan sempat menyadarinya.

2. Push Kick
Tendangan ini sangat bagus untuk menyerang dan masuk ke jarak pukul ataupun clinch. sasarannya bisa perut bagian bawah ataupun kemaluan. Efeknya bisa sangat dahsyat jika momen penggunaannya pas... tunggu lawan bergerak maju...lalu gunakan tendangan ini untuk menjatuhkannya atau minimal memaksanya mundur

3. Oblique Kick
Ini tendangan dari beladiri savate. sasarannya adalah lutut (lihat gambar). Sangat baik digunakan pada jarak tendang yg dekat, dan lebih dahsyat lagi efeknya kalau kita menggunakan sepatu dengan sol karet yg bergerigi (mis: sepatu militer). Tendangan ini juga bisa dilanjutkan untuk "menggerus" tulang kering

4. Muay Thai kick / low kick
Kalau kita bisa melakukan tendangan ini dengan baik, tendangan ini bisa membuka peluang untuk masuknya pukulan kita ataupun kalau memang tendangan kita keras, bahkan bisa langsung merobohkan lawan. Gunakan tulang kering untuk menghajar bagian paha (titik antara pangkal paha dan lutut), jangan gunakan punggung kaki.

Tendangan yang "haram" dilakukan di jalan

Jangan melakukan tendangan memutar! apalagi sambil melompat... tendangan seperti itu baik untuk dilakukan dalam film namun tidak bijak untuk dicoba dalam streetfight. Jangan juga mengambil resiko dengan mencoba menendang ke arah kepala... kemungkinan berhasilnya lebih kecil dibanding besarnya resiko yg harus kita tanggung jika tendangan meleset, apalagi jika kita terjatuh.

semoga bermanfaat

Friday, January 13, 2006

Dari Redaksi: Cuti Satu Minggu

Pengunjung weblog JALAN PETARUNG Yth,


Tanggal 16-21 januari '06 saya ada tugas kerja ke luar sehingga untuk sementara bakal sulit untuk posting di Blog kita ini.

Pada kesempatan ini saya sekaligus mau mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yg mendukung blog ini baik melalui komentar di blog ini, ataupun melalui email-email langsung kepada saya.

Semoga blog ini bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi pengembangan dunia seni bela diri di Indonesia.

tabik hangat,

ery nugroho

Artikel: Hukum Bela Diri

Menghindari konflik selalu merupakan jalan terbaik. Namun demikian adakalanya hal itu tidak selalu bisa dihindari. Sejauh manakah batasan kita dalam membela diri?

Karena negara kita adalah negara hukum (amin!), jadi penting bagi kita para seniman beladiri untuk tahu bagaimana hukum Indonesia memandang tindakan pembelaan diri ini.

"Bela Paksa"

Nah lho... ternyata orang hukum punya istilah sendiri untuk tindakan pembelaan diri, istilahnya "Bela Paksa".

Bela Paksa ini diatur dalam Pasal 49 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP). Supaya pembaca makin pusing dan saya kelihatan agak pintar, saya tuliskan saja bunyi lengkap pasalnya disini:

Pasal 49

Ayat 1
"Barang siapa melakukan perbuatan, yang terpaksa dilakukannya untuk mempertahankan dirinya atau diri orang lain, mempertahankan kehormatan atau harta benda sendiri atau kepunyaan orang lain, dari serangan yang melawan hukum dan mengancam dengan segera pada saat itu juga, tidak boleh dihukum”.

Ayat 2
"Melampaui batas pertahan yang sangat perlu, jika perbuatan itu sekonyong-konyong dilakukan karena perasaan tergoncang dengan segera pada saat itu juga, tidak boleh dihukum ".


Nah lho...lagi......Apa artinya?

Seingat saya, pasal ini intinya bermaksud membebaskan sesorang yg melakukan pembelaan diri dari tanggung jawab pidana. Paling tidak ada 3 unsur yang harus dipenuhi untuk mencukupi syarat penghapus pidana ini:

1. Pembelaan diri itu harus benar-benar terpaksa dan tidak ada jalan lain. Pembelaan itu juga harus seimbang dengan serangannya (contoh: kalau ditodong dengan peniti, tidak boleh membela diri dengan menembak pistol)

2. Pembelaan itu hanya dapat dilakukan terhadap kepentingan-kepentingan yang disebut dalam pasal 49 itu, yaitu badan, kehormatan (dalam arti seksual) dan barang diri sendiri maupun orang lain.

3. Harus ada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan sekonyong-konyong atau ketika itu juga. Jadi kalau sang penyerang sudah harmless tidak boleh dilukai karena sudah tidak ada serangan yang mengancam (perampok yg sudah tertangkap dll)

Begitulah hukum kita memandang tindakan pembelaan diri. Sejauh kita dapat membuktikan 3 hal di atas, maka kita dapat dibebaskan dari tanggung jawab pidana.

Namun demikian tentunya perlu disadari bahwa penjelasan di atas adalah teori semata. Dalam praktek, tentunya jauh lebih kompleks, banyak faktor yg mempengaruhi, terutama dalam proses persidangannya.

Demikianlah sekilas pegaturan soal hukum bela diri....eh...bela paksa

semoga bermanfaat

Wednesday, January 11, 2006

Artikel: Teacher Vs Fighter


Pada kesempatan ini saya ingin mengulas beberapa tipe "seniman beladiri". Mungkin bisa berguna bagi anda untuk mengevaluasi diri, ataupun untuk memilih pelatih.

Saya mengelompokkannya dalam 4 kelompok yaitu: Teaching Fighter, Fighting Teacher, Fighter, dan Teacher.

1. Teaching Fighter

Teaching fighter = A Fighter Who Teach. Jadi ia adalah orang yang menyerap pengalaman dari pengalaman fights dia (sparring, pertandingan dll) dan kemudian mengajarkannya kepada murid-muridnya

Kelebihan: He/She surely CAN fight! ia akan mengajarkan berbagai pengalamannya yg didapatkan dari pertarungan/pertandingannya. Dia biasanya tahu persis teknik mana yang efektif dan teknik mana yang tidak.

Kekurangan: Seorang fighter biasanya tidak tahu banyak variasi teknik. Dia hanya melatih teknik-teknik yg akan ia gunakan dalam pertarungan/pertandingannya. Hal ini berdampak pada murid-muridnya yg "terpaksa" harus mengikuti metode dan jenis teknik latihannya, padahal kebutuhan dan kemampuan orang adalah berbeda-beda.

2. Fighting Teacher

Fighting Teacher = A Teacher Who Fight. Ia adalah seorang seniman beladiri yang tidak hanya mengetahui teori belaka, namun ia juga mampu mengaplikasikannya sebagai seorang petarung (sparring, petandingan dll).

Kelebihan: He/she knows what he/she's talking about! Ia tidak hanya mendalami teori dan variasi tekniknya, melainkan juga mengujinya dalam pertarungan. Ia biasanya mendalami berbagai variasi teknik, sehingga muridnya bisa memilih teknik/ metode latihan yang sesuai untuk dirinya

Kekurangan: Biasanya ia bukanlah the best fighter. Mungkin dia lebih sering kalah daripada menang dalam sparring, pertandingan dll.

3. Fighter

Kelebihan: Ia sangat cocok dijadikan partner latihan, terutama sebagai sparring partner. Ia juga bisa dijadikan obyek pengamatan untuk mendalami suatu teknik, karena biasanya dia punya gerakan-gerakan yang natural.

Kekurangan: Ia tidak bisa mengajarkan hal yg ia tahu. Dia tahu dan bisa mempraktekkan suatu teknik, namun tidak bisa mengajarkannya kepada orang lain. Hal ini biasanya disebabkan karena ia pada saat belajar melakukan "learning by doing"

4. Teacher

Kelebihan: -

Kekurangan: C'mon, this guy is bullshit! Apakah anda mau belajar berenang pada orang yg tidak pernah berenang? atau bahkan tidak pernah mau nyebur ke kolam renang?

semoga bermanfaat

Foto: Carlos Gracie and Helio Gracie

Monday, January 09, 2006

Artikel: Pentingnya "Set-Up" dalam Grappling

There is a lucky blow, but there is no lucky submission

Seorang petarung bisa saja beruntung mendapatkan "lucky blow" dimana pukulannya yg sebenarnya kurang terarah mendadak masuk telak ke arah sasaran (biasanya dagu) sehingga lawan langsung K.O

Hal tersebut mungkin terjadi dalam boxing, atau seni striking lainnya, akan tetapi dalam grappling mustahil bisa mendapatkan lucky submission. kenapa?

Sebuah teknik kuncian (submission) memerlukan suatu perencanaan (set-up) untuk apikasinya. Ada serangkaian tindakan terlebih dahulu yang diperlukan untuk suksesnya sebuah kuncian.

Dalam grappling art seperti BJJ misalnya, lawan kita tidak akan begitu memberikan tangan/kaki/kepala-nya untuk dikunci. kita harus melakukan berbagai jenis hal seperti pressure, pancingan, tipuan dll sebagai set-up untuk suksesnya kuncian tersebut.

Take What The Opponent Gives

Walaupun telah dilakukan suatu perencanaan melalui suatu set-up, seringkali kuncian kita gagal, terutama kalau menghadapi lawan yang berpengalaman.

Nah, disinilah pentingnya kemampuan untuk melakukan transisi kepada teknik/set-up lainnya.

Kita tidak boleh memaksakan suatu submission, terlebih lagi bila perencanaan kita di awal telah gagal atau terbaca lawan.

Jangan paksakan!

Yang harus kita lakukan ialah: Take What the Opponent Give

Kita harus bisa melakukan transisi secara mulus dari satu set-up ke set-up lainnya, carilah opening, tunggu lawan berbuat kesalahan.

Banyak orang bilang, JiuJitsu itu seperti permainan catur, harus pandai-pandai mengatur strategi, kalau satu "skak" gagal, kita harus bisa cari peluang skak yg lainnya

semoga bermanfaat

Artikel: Boards Dont Hit Back!

Boards Dont Hit Back ! Kalimat itu mengingatkan saya paling tidak kepada 2 orang. Orang pertama adalah Bruce Lee yang mengucapkan kalimat itu dalam sebuah TV Show ketika diminta memeragakan kungfu-nya dengan memecahkan papan. Sementara orang yang ke-dua adalah Pat Morita dalam film Karate Kid ketika ditanya oleh muridnya tentang kemampuannya memecahkan berlapis-lapis kayu.

Pemecahan benda keras sebagai salah satu alat ukur hasil latihan memang telah dikenal lama. Berbagai jenis benda keras mulai dari papan kayu, genteng, batu kali, besi pompa, pipa, botol, batako, batu bata, sampai batu es sudah biasa jadi makanan sehari-hari murid yg belajar beladiri.

Namun demikian, metode yang semula merupakan alat ukur sebagian kecil hasil latihan tersebut kini sudah mulai bergeser mejadi pencapaian (achievement)

Banyak seniman beladiri yang menguasai teknik pemecahan benda keras, mendadak percaya bahwa dirinya berarti juga telah menguasai teknik bertarung. Apalagi kini banyak sekali atraksi promosi beladiri yg menampilkan teknik pemecahan benda keras, sehingga calon murid menganggap hal itu adalah pencapaian puncak dari berlatih senibeladiri.

Teknik pemecahan benda keras hanyalah merupakan alat ukur untuk mengetahui tingkat kekuatan, tingkat fokus, dan tingkat akurasi dari suatu teknik yang diperagakan. Teknik pemecahan benda keras sama sekali tidak menjamin kemampuan sang seniman beladiri untuk melakukannya terhadap lawan yg melawan (resisting opponent).

Sebagai contoh, lagi-lagi pengalaman pribadi saya. Saya sedikit-sedikit menguasai teknik pemecahan benda keras, namun demikian saya sudah mengalami sendiri betapa hal itu tidak berhubungan dengan kemampuan bertarung.

Karena saya dulu sering ikut team atraksi untuk senibeladiri, saya bisa memukul pecah berbagai benda keras (batu bata dll). Akan tetapi beberapa waktu lalu saya nyaris Knock Out pada saat sparring tinju, karena saya tidak bisa memasukan satu pukulan-pun.

Hal yang sama juga terjadi dengan kaki saya. Saya pernah ikut atraksi senibeladiri dimana dengan teknik pernafasan tulang kering saya dipukul dengan besi pompa dan kaki saya tidak apa-apa, besi-nya yg patah. Namun demikian, saya juga pengalaman dalam latihan, saya pernah agak pincang cukup lama karena latihan sebuah drill teknik Muay Thai dimana kaki saya selalu telat mem-blok tendangan partner latihan saya.

Supaya tidak melulu pengalaman pribadi, satu contoh klasik akan korelasi kemampuan pemecahan benda keras dengan kemampuan bertarung adalah John Matua vs Tank Abbot (UFC 6). John Matua adalah seniman beladiri Kapu Kuialua (Hawaiian Art of Bone Breaking), yang konon pegangan ataupun pukulannya mampu meremukkan tulang lawan. Dalam sesi latihan, diperlihatkan kemampuan John Matua, yg salah satunya adalah meremukkan batok kelapa.

Hasil pertarungannya dengan Tank Abbot si petarung jalanan???

John Matua terkapar KO dalam 17 detik!!!

Attribute: How to Deliver the Technique

Nah, hal-hal itulah yg menyadarkan saya akan pentingnya atribut. Teknik jadi tinggal teknik kalau kita tidak tahu dan tidak bisa, how to deliver the technique. Untuk mendapatkan penguasaan akan hal ini, disitulah pentingnya aliveness training. Latihan secara realistis dengan lawan yg melawan akan meningkatkan kemampuan kita untuk megaplikasikan teknik tsb.

Teknik pemecahan benda keras, sekali lagi, hanya merupakan sebuah alat ukur dari sebagian kecil hasil latihan (kekuatan, fokus, dan akurasi). Kalau kita mampu memecahkan batu kali atau batok kelapa, bukan berarti kita bisa meng-KO lawan.

Friday, January 06, 2006

Artikel: Latihan Sampai Babak Belur?


Buat sebagian besar orang yang cukup lama berada dalam dunia beladiri pasti sudah sering mendengar bagaimana kerasnya latihan di dojo ini dan dojo itu.

"Disana tulang kering kita dihajar pakai rotan"

"Kalau di tempat latihan kita, haram hukumnya pakai alat pelindung, kita latih tanding bebas tiap malam sampai gigi kita rontok semua"

"Setiap sesi latihan, pasti kita sparring bebas, jadi tiap latihan, pasti ada saja yang dibawa ke rumah sakit"

"Pemanasan kita selalu dimulai dengan sikap pasang kuda-kuda, kemudian sang pelatih akan menghajar kaki kita, punggung kita,dan buat tingkat yang lebih tinggi akan dihajar bagian lehernya"

Demikian beberapa contoh kisah-kisah "hebat" yang mungkin sering kita dengar dalam obrolan tentang senibeladiri. Ironisnya, kisah-kisah yang sebenarnya menyedihkan ini biasanya disambut dengan kekaguman sang pendengar.

Senibeladiri adalah Science

Saya sampai saat ini yakin betul bahwa senibeladiri adalah science, ilmu pengetahuan, yang sama dan sejajar dengan banyak ilmu pengetahuan lainnya. Konsekuensi dari prinsip ini ialah bahwa pendekatan yang harus kita gunakan dalam seni beladiri adalah pendekatan ilmiah, dalam arti metodenya bisa dipertanggungjawabkan.

Smart Training

Buat kita yang mengangap seni beladiri sebagai bagian dari hidup kita, penting sekali untuk berlatih secara cerdas (smart training). Kita yang cinta seni ini tentu ingin terus bisa berlatih dan berkarya sepanjang umur hayat kita. Untuk mencapai cita-cita itu, maka jangan rusak badan kita, sayangi tubuh kita, karena seni beladiri seharusnya membuat kita jadi sehat, berpikir dan bertindak positif dll.

Yang diperlukan adalah Metode yg Benar, Bukan Metode yg Kejam

Tidak ada korelasi antara kejamnya metode latihan dengan kemampuan bertarung sang murid. Untuk meningkatkan kemampuan bertarung, perlu metode latihan yang benar, bukan metode yang kejam.

Sparring adalah metode yang baik dalam realistic training. Namun demikan sparring tidak baik bila dilakukan secara terus menerus. Dalam berlatih kita perlu jeda untuk pendalaman satu teknik dan mempelajari detail teknik tersebut. Sparring juga harus dilakukan dengan perlengkapan (protector) yang memadai.

Metode 3 i

Ada satu metode yang saya rasa cukup baik untuk kita terapkan dalam latihan. Metode ini adalah metode 3 i yang diusung oleh Matt Thornton dari Straightblastgym

- Introduction - Isolation - Integration -

Introduction
Dalam tahap ini dilakukan perkenalan terhadap teknik secara detail, posisi kaki, tangan, kepala, berat badan dll

Isolation
Dalam tahap ini dilakukan "sparring" tapi hanya terhadap teknik yang terkait. Misal: Kita sedang berlatih armbar from the guard, maka sparring dimulai dengan berpasangan dalam posisi close guard, dan sang atlet mencoba untuk melakukan armbar terhadap partnernya. Sang partner harus memberikan perlawanan dan tidak begitu saja memberikan tangannya untuk di armbar seperti pada tahap introduction

Integration
Dalam tahap ini sang atlet akan mencoba mengaplikasikan teknik yang terkait, biasanya dalam sparring bebas, dengan mengkombinasikan dengan teknik-teknik lain yang pernah ia pelajari sebelumnya

So.... Train Hard...and Train Smart !!!

semoga bermanfaat

Note: Artikel ini merupakan hasil inspirasi dari komentar bung Tigerwood dalam salah satu artikel di blog ini. Thanks man!

Wednesday, January 04, 2006

Artikel: Royce Gracie, Aji Susilo, Fransino Tirta BISA juga Nyolok Mata, Nendang Kemaluan, dan Gigit Kuping


Buat sebagian orang yang anti dengan sport, jurus-jurus yang illegal dalam sport mendadak menjadi jurus pamungkas yang seolah-olah bisa menyelesaikan semua masalah.

Seorang kawan dengan sinis mengomentari suatu pertandingan MMA yang saya tonton:

"Ah, kalau gue lawan si gracie itu sih, pasti udah gue colok matanya, terus gue gigit aja kupingnya, ngapain lama-lama tendang-pukul, terus bergulat ground fighting?"

Benarkah jurus-jurus illegal seperti mencolok mata, menendang kemaluan dll itu bisa selalu diandalkan dalam menyelamatkan anda?

TIDAK, tentu tidak.

Apakah anda pikir Royce gracie tidak bisa mencongkel mata anda? apa anda pikir Fransino Tirta tidak bisa menendang kemaluan anda? apakah anda pikir Aji Susilo tidak bisa menggigit kuping anda?

Mereka bisa melakukan teknik-teknik illegal itu, dan bahkan mereka punya peluang yang lebih besar untuk menerapkan teknik-teknik illegal itu karena mereka sudah punya "modal"nya (mental, teknik bertarung, pengalaman, positioning dll)

Ada kisah dimana Matt Thornton (straightblast gym) benar-benar mencoba mencolok mata (eye gouge) pada rickson gracie...dan hasilnya...jelas gagal...dan justru Matt Thornton langsung tap out

Para fighter yang terbiasa melakukan realistic training (sparring dll) sudah punya atribut, sudah punya modal, sudah paham bagaimana set-up yg diperlukan, untuk melakukan ataupun mengantisipasi teknik-teknik illegal.

Jadi, buat semua orang yang masih bermimpi bahwa teknik-teknik illegal itu solusi untuk melarikan diri dari kenyataan, bangunlah, ganti pakaian, bangun dari kursi dan meja komputer anda, dan coba lakukan latihan beladiri yang realistis.

Jika anda sudah bisa survive dalam sport (lihat artikel sebelumnya), anda tinggal "switch your mentality" ketika terpaksa harus menjalani pertarungan sungguhan, untuk menggunakan teknik-teknik illegal. Bila anda sudah bisa survive dalam sport, anda akan punya peluang jauh jauh jauh lebih besar untuk mengaplikasikan teknik-teknik illegal dibandingkan dengan orang yang berlatih jurus colok mata, memukul angin, menggigit kardus 200x sehari.

semoga bermanfaat

Tuesday, January 03, 2006

Artikel: Kalau Tidak bisa Survive dalam Sport, Bagaimana Bisa Survive dalam Street Fight???

Saya baru-baru ini teringat sebuah dikotomi yang "menarik" soal seni beladiri. Pendapat ini membagi senibeladiri menjadi dua kelompok:

1. Seni bela diri untuk "combat" atau pertarungan hidup mati
2. Seni beladiri untuk sport (UFC, Vale Tudo dll)

Seperti biasa, saya sudah terlalu lelah untuk berdebat tentang ini (ingat artikel tentang puisi Dan Inosanto?).

Sport bukanlah sebuah aliran baru atau suatu jenis seni beladiri baru. Sport hanyalah merupakan suatu metode latihan untuk meningkatkan kemampuan bertarung. Sport merupakan suatu alat ukur bagi efektivitas suatu senibeladiri. Sport membuat berbagai mitos dan legenda menjadi bisa terukur dan terbuktikan. Seni beladiri adalah suatu science , seni beladiri bukan sebuah agama yang perlu iman.

Suasana "pertarungan" dalam suatu sport (misal: UFC, TPI Fighting dll) jelas tidak bisa dibandingkan dengan pertarungan yang sesungguhnya. Di dalam octagon, ataupun di atas ring, jelas lebih "aman", lebih bisa diperhitungkan kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa terjadi, ada peraturan pertandingan, terlebih lagi, disana ada wasit yang selalu menjaga jalannya pertandingan agar tetap sportif.

Melihat fakta-fakta itu, jelaslah bahwa bertarung di atas ring, lebih "aman" daripada harus bertarung di jalan.

Satu pertanyaan kunci yang ingin saya sampaikan disini ialah untuk membantah argumen setiap orang yang menyatakan seni beladirinya lebi hebat daripada seni beladiri yang mengikuti sport karena ia menganggap senibeladirinya lebih berorientasi pada "pertarungan yang sesungguhnya"

Pertanyaan kunci itu adalah:

Kalau kita tidak bisa survive dalam sport , bagaimana mungkin bisa selamat dalam pertarungan sesungguhnya?

Kalau dalam susana sportif yang ada peraturan, 1 lawan 1, ada wasit dll itu saja kita sudah tidak bisa selamat, apakah mungkin kita selamat dalam pertarungan sesungguhnya yang serba tidak pasti dan sangat berbahaya? Mimpi kali yeee.....