JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Wednesday, October 18, 2006

Dari Redaksi: Selamat Iedul Fitri 1427 H


Yth Para Pembaca JALANPETARUNG

Sudah hampir setahun Jalan Petarung hadir di sini berusaha mewarnai diskursus seni bela diri di Indonesia. Sangat besar kemungkinan bahwa dalam perjalanan selama ini saya ada salah tulis, salah ucap, ataupun salah bertindak.

Dengan segala kerendahan hati saya hendak meminta maaf kepada semua orang yang mungkin tersakiti atau tersinggung oleh tulisan, ucapan, ataupun tindakan saya secara langsung ataupun tidak langsung.

Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan kita dan menunjukan kita kepada jalan yang benar

salam,
ery nugroho

Friday, October 13, 2006

Artikel: Pinochio Method Vs Progressive Resistance Training


Kali ini saya akan coba menulis soal metode latihan untuk mengaplikasikan suatu teknik beladiri. Pada awal tahun ini saya pernah juga menulis soal metode latihan yang menyinggung soal Metode 3 i (introduction, isolation, and integration), lihat di sini: Latihan Sampai Babak Belur?

Tulisan ini akan fokus kepada seberapa besarkah resistance (perlawanan) dari partner kita dalam berlatih suatu teknik. Saya akan membaginya ke dalam dua kelompok metode besar yaitu 1) Pinochio Method dan 2) Progressive Resistance.

Pinochio Method

Jangan sekali-kali coba cari referensi soal metode pinokio ini dari literatur manapun. Anda tidak akan bisa menemukannya karena ini sepenuhnya hasil karangan saya saja.

Yang saya maksud dengan metode pinokio ialah metode latihan aplikasi suatu teknik beladiri yang menganggap partner latihan kita seolah-olah sebagai orang-orangan kayu. Bila ia memukul ia akan berdiri diam tak bereaksi dengan tangan terjulur sementara kita mengeluarkan 5-10 serangan balasan kepadanya (tendangan putar, sabetan leher, colok mata, tarik bulu hidung dll).

Dalam metode ini partner latihan kita sama sekali tidak memberikan perlawanan dan lebih jauh lagi bahkan tidak melakukan reaksi yang manusiawi. Ia akan diam mematung sambil membiarkan kita melakukan puluhan teknik balasan. Metode ini jelaslah tidak realistis dan sedikit sekali manfaatnya untuk dilakukan.

Progressive Resistance Training
Untuk memahami Progressive Resistance Training perlu untuk mengenali dulu metode 3 i yang saya sebutkan di atas karena keduanya saling berhubungan dan saling mendukung.

Ada 3 tahap perlawanan dalam Progressive Resistance Training yaitu:

1) No Resistance/Cooperative
Tahap ini berguna untuk metode perkenalan (introduction). Partner diharapkan untuk "kasih saja" kita untuk melakukan berbagai aplikasi teknik. No resistance ini memiliki perbedaan yg mendasar dengan Pinochio Method yaitu bahwa dalam No resistance partner latihan kita tetap bereaksi. Ia tidak melawan, tapi tetap melakukan reaksi yg manusiawi (kalau dipukul ya mundur, jatuh atau bergeser dll). Dalam tahap ini partner diharapkan untuk kooperatif dan membiarkan kita belajar aplikasi teknik tersebut

2) Low resistance
Dalam tahap ini partner latihan kita akan memberikan sedikit perlawanan. Kalau tangannya mau dikunci, ia harus secara perlahan berusaha menarik atau menyelamatkan tangannya. Kalau mau dicekik lehernya ia harus berusaha secara perlahan menunduk atau menyelamatkan lehernya.

3) Full Resistance
Dalam tahap ini, partner kita akan berusaha sekuat tenaga melawan. Namun demikian harap dibedakan dengan sparring karena bagaimanapun dalam Full Resistance partner kita sudah mengetahui apa yg akan kita lakukan. Sementara dalam sparring, semua pegang kartu masing-masing, tergantung kemampuan masing-masing orang untuk membaca gerakan lawan.

Demikianlah sekilas penjelasan saya soal metode untuk melatih suatu aplikasi teknik beladiri.

Menurut hemat saya, sedikit manfaat yg bisa kita dapat bila kita terus menerus latihan dengan metode pinokio.

Metode Pinokio hanya bermanfaat untuk dilatih bila kita mau duel melawan Pinokio si orang-orangan kayu. Untuk duel lawan pinokio kita harus latihan extra keras karena saya punya kecurigaan bahwa dalam duel tersebut Om Jimmy Jangkrik dan Kakek Gepeto akan ikut membantu (perlu multiple attackers training) hehehe...

semoga bermanfaat

Wednesday, October 11, 2006

Artikel: 3 Ways of Defense


Artikel singkat ini merupakan artikel lanjutan dari tulisan saya 5 Ways Of Attack kira-kira bulan Maret lalu. Selain 5 ways of attack, dalam Jeet Kune Do juga dikenal adanya 3 ways of defense yaitu:

1. Passive Defense
Passive defense berarti kita hanya bertahan semata. Beberapa teknik dalam tipe defense ini antara lain adalah teknik shield/blocking tendangan, double cover, parry, atau berbagai jenis tangkisan lain. Pertahanan model pasif ini sebaiknya tidak dilakukan terus menerus kecuali bila bermaksud untuk memberikan kesan tipuan kepada lawan bahwa anda lelah atau takut. Jika pertahanan pasif ini dilakukan terus menerus, kepercayaan diri lawan akan meningkat dan ia biasanya akan segera berusaha menghabisi anda.

2. Aggressive Defense
Dalam pertahanan agresif sebenarnya tujuan anda adalah untuk menyerang. Namun mengingat anda bukan melawan patung, anda perlu menetralisir dulu serangannya untuk memasukan serangan anda. Teknik yang sangat baik dalam mengaplikasikan pertahanan agresif ini adalah Crazy Monkey Defense dari Rodney King ( CM Defense ). Model-model teknik 'block and counter' secara bersamaan juga masuk ke dalam tipe pertahanan ini.

3. Intercepting

Intercepting adalah suatu capaian paripurna dari seorang pendekar Jeet Kune Do. Kita harus berusaha menghabisi lawan sebelum ia bergerak menyerang atau pada saat ia bermaksud untuk melancarkan serangan. Berbagai teknik bisa dipakai untuk pertahanan dengan intercepting ini. Bukan jenis tekniknya yang menjadi penting, melainkan kemampuan untuk membaca gerakan lawan dan bertindak cepat untuk menyusupkan serangan untuk menghabisi lawan. Untuk mendapatkan kemampuan intercepting ini, kita perlu kecepatan yg hebat, timing yg tepat, dan kita perlu jam terbang sparring yg tinggi sehingga bisa membaca gerakan lawan.

semoga bermanfaat

Monday, October 09, 2006

Artikel: Open Mat Policy


Ada sebuah kebijakan yang dianut oleh berbagai sekolah bela diri modern. Kebijakan ini sering dikenal sebagai "Open Mat Policy". Secara prinsip, kebijakan ini bukanlah kebijakan yang baru sama sekali. Banyak sekolah beladiri tradisional yang telah menerapkannya sejak dulu. Namun seiring berjalannya waktu, banyak yang telah meninggalkan kebijakan ini.

Dengan maraknya Mixed Martial Art ataupun Submission Grappling, kini kebijakan itu seolah terlahir kembali. Coba saja anda saksikan atau ikuti seminar-seminar atau kelas latihan dari para guru JKD, MMA, BJJ, ataupun submission grappling. Semuanya menerapkan kebijakan Open Mat Policy ini.

Ada dua hal penting yang diatur dengan Open Mat Policy ini yaitu:

1. Instruktur harus sedikit banyak ikut berlatih bersama-sama dengan murid ataupun tamu yang berkunjung. Instruktur dilarang keras hanya berdiri atau duduk diam sambil memberikan instruksi. Seorang instruktur harus terjaga keahliannya dengan berlatih bersama-sama.

2. Instruktur harus selalu siap menerima ajakan sparring (bukan berkelahi) oleh siapapun yang datang ke tempat latihan (termasuk muridnya). Bahkan lebih jauh lagi, sesi sparring dalam berbagai format dengan instruktur harusnya ada di setiap latihan. Seorang murid akan lebih cepat kemajuannya bila secara rutin terbiasa berhadapan dengan orang yang skill-nya jauh lebih tinggi. Seorang instruktur yang mumpuni harusnya bisa menyeimbangkan kesenjangan skill antara dirinya dan murid yang berlatih. Harus diingat bahwa ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal keterbukaan dan semangat untuk terus maju.

Memang tidak mudah untuk menerapkan kebijakan semacam ini. Namun bila kebijakan semacam ini bisa diterapkan secara luas, maka berbagai mitos dan legenda akan punah. Kualitas instruktur juga akan terus terjaga. Dan diujung akhirnya kualitas pengajaran seni bela diri akan terus meningkat.

Bagaimana dengan anda atau instruktur anda?

semoga bermanfaat

Tuesday, October 03, 2006

Artikel: How to Hit Hard


Tulisan ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan Patrick dan Bebi di Shoutbox.

Untuk menjawab bagaimana caranya memukul/menendang agar keras, mula-mula saya harus menjelaskan beberapa prinsip dasar dan beberapa tips dari saya yaitu:

1. Body Position
Bentuk posisi tubuh sangatlah berpengaruh terhadap hasil kerasnya pukulan/tendangan. Untuk posisi berdiri awal saya biasa menggunakan posisi yang dikenal dengan "hunchback body position". Badan agak bongkok (bayangkan ada atap yg menekan kepala anda), dagu rapatkan ke bawah, tangan taruh di samping rahang (atau alis bila lawan ada di jarak pukul), siku menutup rusuk rapat. Posisi Kaki belakang berjinjit, sebagai basis untuk tenaga pendorong.

Bayangkan diri anda seolah-olah sebuah meriam baja yang kokoh, yang siap melontarkan peluru yang dahsyat (no, I'm not kidding, mind set sangat penting dalam fighting).

2. Footwork
Balance! itulah kuncinya. Dengan body position yg benar, coba lakukan gerakan maju-mundur dan kiri-kanan. Untuk memukul yang keras ada beberapa kunci yaitu: a) anda harus sedikit melompat tipis di atas tanah dengan tenaga pendorong kaki belakang yg berjinjit, b) lakukan pukulan ketika kedua kaki anda sudah mendarat di tanah, ingat bahwa energi pukulan kita datangnya dari tanah jadi apabila satu saja kaki kita tidak menjejak tanah maka tenaga pukulan akan berkurang.

3. Technique
Ada 2 titik ekstrim yang harus dipertimbangkan dari segi teknik untuk menghasilkan pukulan/tendangan yang keras. Di satu sisi ada teknik yg menghasilkan pukulan keras namun sangat terbuka untuk serangan balik ataupun intercept. Di sisi lain ada teknik yang sangat aman akan resiko serangan balasan, namun tidak terlalu keras hasilnya.

Saya menyarankan untuk ambil teknik yg jalan tengah. Selain itu juga timing/momentum menjadi sangat penting untuk dilatih agar gerakan offensive dan defensive bisa menjadi refleks.

Untuk pukulan, tips dari saya adalah untuk mengeluarkan pukulan dari samping kepala. Kepalan diputar menukik kebawah sehingga siku terputar menghadap atas agar lengan tangan yg memukul tetap menutupi rahang. Jangan lupa untuk memutar pinggul anda untuk menghasilkan tenaga yg dahsyat. Selain itu juga ada beberapa prinsip yg penting untuk diingat:

"Satu pergi, Satu Jaga Rumah!" Prinsip ini agar tangan yg tidak memukul selalu berjaga di kepala. Jangan pergi dua-dua nya.

"Habis Pergi, Langsung Pulang!" Prinsip ini agar tangan yg memukul langsung kembali berjaga setelah memukul. Rute pulang haruslah sama dengan rute pergi, tidak boleh turun dulu.

Untuk tendangan, low kick (roundhouse) misalnya, footwork yg benar sangatlah penting. Untuk mendapatkan hasil tendangan yang keras, penting untuk melangkah terlebih dahulu (tergantung teknik tendangan). Selain itu tangan yg sama dengan kaki yg menendang juga harus di tarik ke belakang sementara tangan yg satu berjaga di kepala. Banyak praktisi yg memaksakan kedua tangan terus di kepala sehingga mengurangi power tendangan.

Bagaimana Melatihnya?

Saya sudah mulai kewalahan menjelaskan semua ini dengan kata-kata. Untuk cara melatih, ada metode bernama performance drill dimana anda membutuhkan partner untuk melatih body position dan footwork secara benar. Selain itu shadow boxing juga ritual yg bagus untuk melatih keduanya.

Untuk power, saya paling suka untuk menggunakan Heavy Bags. Untuk Speed saya tidak menganjurkan untuk menggunakan pemberat atau alat semacamnya. Dengan performance drill, shadow boxing, heavy bags drill, progressive sparring, Speed akan datang dengan sendirinya.

Untuk Patrick yang sering cidera saat latihan memukul, ada kemungkinan posisi kepalan anda ataupun posisi jatuhnya ke target salah. Coba pastikan kepalan sudah benar dan jatuhnya segaris dengan arah tenaga, jangan melenceng satu inchi pun.

Kalau masih sakit, coba gunakan MMA/Boxing Gloves, mungkin tangan anda perlu conditioning dulu sebelum menggunakan bare-fist.

Kalau masih sakit juga, gunakan saja teknik-teknik pukulan Open Hand. Teknik kepalan mungkin tidak cocok dengan struktur tulang anda. Ingat, Individu lebih penting daripada sistem/aliran. Kalau sepatu anda kesempitan, ganti sepatunya! jangan kecilkan kaki anda!

Be Like Water My Friend!

Semoga Bermanfaat

Monday, October 02, 2006

Artikel: Apa Makna Bela Diri Buat Anda?


Tidak banyak seniman beladiri yang berani jujur dan tegas menjawab pertanyaan serupa ini. Pertanyaan seperti ini biasanya akan dijawab dengan filosofi, jargon, ataupun petuah yang terkadang sang pembicara pun sebetulnya tidak paham.

Kalau ditarik benang merah dari penjelasan yang "berat-berat" itu, pada pokoknya ada 3 kelompok makna bela diri bagi orang-orang yang mempraktekkannya.

1. Sebagai Way of Life
Bela diri sebagai "way of life" berarti bahwa sang praktisi menjalani hidupnya dengan berpedoman pada ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang diberikan dalam seni bela diri tersebut. Seni bela diri menjadi bagian dari hidupnya dan menentukan sikap dan pola hidup praktisi yang bersangkutan. Pemilihan makna sebagai "way of life" mengakibatkan para praktisinya banyak yang mengharamkan "cross training" karena menjadi tak mungkin untuk memiliki 2-3 ways of life. Memaknai bela diri sebagai "way of life" sangatlah mendekati, kalau tidak sama dengan, menjadikannya agama. Namun hal itu tentunya tergantung pada ajaran ataupun nilai-nilai dalam seni bela diri tersebut.

2. Sebagai Way of Fighting
Bela diri merupakan sekumpulan teknik pertarungan untuk diaplikasikan. Pemaknaan sebagai cara bertarung seringkali mengesampingkan filosofi ataupun nilai-nilai yang mendasari teknik-teknik pertarungan tersebut. Namun jarang ada praktisi bela diri yang mau jujur mengakui bahwa dirinya memaknai bela diri hanya sebatas ini karena ada kesan seolah-olah pemaknaannya menjadi dangkal.

3. Sebagai Science
Terus terang saja saya pada saat ini berposisi di sini setelah sebelumnya pernah juga memaknai bela diri sebagaimana no.1 ataupun no.2.

Dengan memaknai bela diri sebagai science seorang praktisi bisa kritis terhadap aliran seni bela dirinya. Dalam science juga ada sikap untuk belajar secara berkelanjutan. Dengan memaknai bela diri sebagai science, seorang praktisi tidak perlu menjadikannya sebagai "agama baru", dan tidak perlu juga memaknainya hanya sebagai kumpulan teknik bertarung karena ilmu pengetahuan (science) pada ujungnya juga adalah wujud berfikir dan bersyukur kepada Tuhan Y.M.E.

Cita-cita saya dengan ilmu bela diri adalah agar bisa mencontoh Ibnu Sina dengan Ilmu Kedokterannya. Ibnu Sina tentu saja tidak menjadikan ilmu kedokterannya sebagai agama ataupun pedoman hidup. Ibnu Sina tidak juga memaknai ilmu kedokteran sekedar sebagai teknik pengobatan untuk berpraktek. Dengan memaknai sebagai ilmu pengetahuan, secara langsung pemaknaan ini akan mendorong untuk terus berfikir dalam pengembangan teknik, dan terus bersyukur kepada keagungan-NYA

Jadi, ketika anda bersiap mau latihan, ketika bersiap memakai Gi, Dobok, baju silat, rash guard, T-Shirt dll, tidak ada salahnya merenungkan sejenak. Apa makna bela diri buat anda?

semoga bermanfaat