JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Monday, December 11, 2006

Artikel: Laporan Singkat Pertandingan Kemarin

Djarum Super Submission Grappling Championship 2006 usai sudah. Puluhan grappler dari berbagai penjuru nusantara hadir dan bertarung menguji hasil latihan masing-masing.

Saya sendiri kalah pada pertandingan pertama melawan Samuel dari Synergy dan langsung tersingkir karena sistem gugur. Saya kena triangle choke.

Tidak ada tempat buat "average grappler" seperti saya. Kualitas peserta dan teknik-teknik yang ditampilkan sangat jauh meningkat dibandingkan tahun 2005 lalu.

Terkaget-kaget saya melihat orang-orang dengan cantik melakukan berbagai Guard, Sweep, escape, ataupun Submission (kuncian) yang agak "advance". Guard yang dipakai tidak lagi melulu Closed Guard ataupun Butterfly Guard, ada beberapa peserta yg saya lihat sudah mulai mahir pakai X-Guard bahkan langsung transisi ke berbagai variasi Leg-Lock.

Saya juga nyaris terloncat dari duduk melihat seorang peserta yg alih-alih melakukan kuncian armbar terhadap lawannya, ia justru mengambil submission Gogoplata yg masih jarang kelihatan di kompetisi tahun lalu. (Hayo, yang belum tahu Gogoplata segera gogo googling!).

Lesson learned bagi saya ialah bahwa saya harus latihan lebih keras dan lebih keras lagi. Dalam grappling fight, saya harus lebih agresif dengan berusaha mencari submission secepat mungkin

semoga bermanfaat

Thursday, December 07, 2006

In Memoriam: Mohamad Hadimulyo

Our perguruan was created with a desire to constantly seek out something,
so that pencak silat evolves continually.
Pencak silat is knowledge, and knowledge develops, it is never static.
If human beings stop thinking, that is when stupidity begins.
-Mohamad Hadimulyo, Keluarga Pencak Silat Nusantara-

Innalillahi wa innailaihi Roji'un

Dunia persilatan berduka. Hari Senin 4 Desember 2006, Pukul 14.00, telah berpulang Bapak Mohamad Hadimulyo Guru Besar KPS Nusantara (www.kpsnusantara.com)

Selamat jalan Pak Hadimulyo, semoga arwahnya mendapat tempat yang lapang dan amal ibadahnya diterima di sisi Nya.

Semoga semangat dan pengabdian almarhum bisa diteruskan oleh seluruh pesilat muda sebagai generasi penerus

NB: Sedikit ulasan tentang almarhum bisa dibaca disini: “Local Wisdom”

Monday, December 04, 2006

Artikel: Kenapa Saya Ikut Djarum Super Grappling Championship 2006


Setiap orang tentu punya pertimbangan masing-masing. Daripada mati-matian berjibaku sampai mulut berbusa berusaha menyadarkan pentingnya kompetisi kepada orang lain, ada baiknya kita coba tanya diri kita dulu sendiri.

Pada kesempatan ini saya akan coba menjabarkan kenapa saya (Insya Allah) ikut lagi kompetisi grappling minggu depan di Senayan.

Saya ikut kompetisi bukan untuk menang tapi bukan juga untuk sekedar meramaikan acara. Saya ikut kompetisi untuk proses perkembangan belajar diri saya sendiri dalam hal grappling (self-improvement).

Sama seperti tahun lalu, saya tentu tidak berani mimpi untuk menang (lho, mimpi aja kok takut, hehehe). Sepuluh tahun lebih saya hanya fokus ke teknik pukul tendang dalam dunia seni beladiri. Grappling merupakan a whole new interesting world for me!

Itulah kenapa saya harus ikut kompetisi ini: untuk belajar dan berusaha maju.

Banyak instruktur beladiri yang khawatir reputasi-nya runtuh kalau kalah ikut pertandingan. Saya sendiri tidak memerlukan suatu reputasi yang semu apalagi palsu sifatnya. Saya bisa saja terus duduk dipinggir lapangan dan tetap "undefeated" as martial art instructor. Tapi buat apa?

Guru saya Yuri Amadin, kalah di ISWC 2005 kemarin. Tidak satu derajat pun rasa hormat saya turun kepadanya. Tahun ini dia ikut lagi. Ia bisa menang, bisa juga kalah lagi. Malah semakin tinggi respek saya padanya. Dia hadir, dia tanding, dia belajar, dan dia mengajarkan pelajarannya kepada murid-muridnya.

Saya ingin murid-murid saya punya apresiasi yang sama sebagaimana saya meng-apresiasi Yuri. Saya tidak ingin murid saya merasa bahwa saya tak terkalahkan apalagi bahwa saya sudah selesai dalam belajar beladiri. Saya ingin murid saya melihat bahwa guru nya juga terus bersemangat untuk belajar dan maju.

Saya juga tidak sampai hati membohongi murid saya dengan mengatakan bahwa kompetisi itu tidak perlu karena bukan "real fighting" ataupun bahwa kompetisi adalah tindakan sia-sia karena hanya merupakan ajang kesombongan diri.

Saya juga tidak berani untuk bilang kepada murid-murid saya bahwa grappling/ground fighting tidak perlu dipelajari dalam belajar seni bela diri karena argumen itu jelas-jelas tidak masuk akal.

Selain itu, walaupun saya belajar juga berbagai beladiri yg mengajarkan beberapa teknik "congkel mata" ataupun "cabut kerongkongan", namun saya terlalu malu untuk berkilah kepada murid-murid saya bahwa peraturan pertandingan yang melarang teknik-teknik tersebut mengakibatkan saya sulit untuk menang.

Buat saya yang sedang terus belajar grappling, kompetisi minggu depan merupakan peluang bagus untuk terus belajar dan berusaha maju.

Namun sekali lagi, ini pilihan saya sendiri. Setiap orang tentunya punya pilihan dan alasan masing-masing.

Mumpung sedang membahas kompetisi minggu depan, sekalian saya mohon doa kepada pembaca JALANPETARUNG agar keikutsertaan saya dalam kompetisi itu membawa manfaat, lancar, dan selamat. Amin

semoga bermanfaat

NB: Foto diambil dari dokumentasi ISWC 2005, dimana saya kalah melawan Nikolai Holt dan Vincent