JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Monday, April 23, 2007

Artikel: Badmouthing Other Arts

Mungkin karena saya sering menulis tentang realistic training dalam beladiri, dalam berbagai kesempatan kopi darat, saya sering ditanya tentang pendapat saya soal aliran beladiri tertentu. Satu-dua orang terlihat kecewa mendengar jawaban saya. Beberapa orang nampaknya ingin sekali mendengar jawaban saya agar menjelek-jelekkan seni beladiri lain.

Dalam perjalanan kita belajar senibeladiri, penting sekali untuk bertemu berbagai orang dan bertukar pikiran. Dalam bertukar pikiran sudah pasti kita akan memberikan opini ataupun analisis kita. Namun demikian tidak semua orang siap untuk bertukar pikiran. Salah-salah bisa jadi malah "bertukar pukulan".

Kita juga tidak boleh menjelek-jelekan beladiri lain (badmouthing). Menjadi kritis tidak sama dengan menjelek-jelekkan.

Berikut adalah beberapa tips dari saya dalam memberikan opini terhadap suatu aliran seni beladiri:

1. Be Honest
Kalau kita jujur, opini yang kita ungkapkan juga akan tulus. Kalau kita tulus, orang lain akan menerimanya dengan baik. Ungkapkan opini kita apa adanya, jangan terlalu khawatir, tidak perlu dibuat-buat, jangan campurkan dengan ego perguruan sendiri, ego aliran dll.

2. Be Polite
Substansi kejujuran yang sama jika disampaikan dengan cara berbeda niscaya hasilnya akan berbeda pula. Seringkali orang lebih mempermasalahkan "cara" daripada "isi". Menyampaikan opini dengan sopan tidak sama dengan bermuka dua ataupun diplomasi berlebih-lebihan. Sampaikan apa adanya, tapi sampaikanlah dengan cara yang terbaik.

3. Be Positive and Open Mind
Hal ini sering membuat orang yang berharap kita menjelek-jelekkan beladiri lain jadi kecewa. Kita harus fair dan berpikiran terbuka. Jika ada aspek positif dari suatu senibeladiri lain janganlah kita ragu untuk mengungkapkannya. Janganlah yang kita cari melulu aspek buruk dari beladiri tsb. Ingat, kita selalu bisa belajar banyak dari orang lain ataupun aliran beladiri lain! Kita baru boleh betul-betul negatif ketika aliran beladiri ybs betul-betul "fraud", menipu, dan dapat membahayakan bagi seorang pemula jika terjerumus ke dalamnya.

4. Be Effective
Lihat seperti apa pendengar atau lawan bicara kita. Perhatikan juga media dan forumnya. Asas manfaat! itu kuncinya. Tidak semua orang ingin mendiskusikan keefektivan alirannya. Tidak semua orang juga peduli dengan itu. Setiap orang punya orientasinya masing-masing dalam belajar senibeladiri. Dalam hal lawan bicara kita sudah berpikiran tertutup dan sudah keras hati, tidak ada manfaatnya kita buang energi berusaha "berdakwah"(Sekali lagi, senibeladiri bukan agama bung!). Ada kalanya lebih baik kita diam dan banyak mendengar, siapa tahu ada manfaat yg bisa kita dapat.

5. Be Ready
We have to walk the talk. Kalau kita mau kritis terhadap seni beladiri, mutlak kita harus siap atas berbagai kemungkinan. Hal ini khususnya penting dalam hal diskusi2 melalui pertemuan langsung (tatap muka). Dalam hal "perang" dalam diskusi di internet melawan Keyboard Fighter , jangan terlalu khawatir, they will never show up!

semoga bermanfaat

Thursday, April 19, 2007

Artikel: From my Tae Kwon Do Years

Banyak sekali hal yang saya dapat dari Tae Kwon Do. Oleh karena itu saya pikir menjadi penting buat saya pribadi untuk menulis sesuatu tentang Tae Kwon Do. Syukur juga kalau ada manfaatnya buat orang lain yang mungkin kebetulan baca tulisan ini.

Saya akan coba jabarkan satu persatu dengan membuat poin-poin penting beberapa hal yang saya dapat dari masa-masa saya di TaeKwonDo.

1. Kekeluargaan
Dojang adalah rumah kedua saya. Orang-orang di dalamnya adalah keluarga saya. Sampai sekarang saya masih sering rindu untuk bertemu mereka yang kini entah sudah bertebaran ke mana. Sesekali saya masih dapat kesempatan bertemu satu dua orang, dan pasti saja hasilnya selalu penuh nostalgia. Tempat latihan saya dulu menekankan betul kekompakan dan rasa persaudaraan. Pergi nonton pertandingan bareng-bareng sampai larut malam, latihan bersama di rumah (a.k.a berantem2an), pergi Gashuku dan begadang semalaman, nonton video beladiri rame-rame (Fight to Win, dan tentu saja "Best of The Best!").

2. Sportivitas
Saya dulu sering sekali ikut ataupun nonton pertandingan. Menang pernah, kalah lebih sering lagi. Dari TKD saya belajar yang namanya sportivitas.

3. Rasa Hormat & Disiplin
Bisa jadi menurut teori masa kini, model pendidikan di masa TKD saya tidak sepenuhnya benar. Saya dulu mulai dengan rasa takut terhadap Sabeum. Selalu ada sanksi tegas terhadap tindakan-tindakan yang melanggar peraturan perguruan. Jaman dulu menjadi sabuk hitam TKD sangatlah sulit. Waktu awal mulai belajar, sabuk hitam TKD itu bagaikan bintang di langit. Seiring berjalannya waktu, rasa takut mulai bergeser pada rasa hormat dan keakraban. Dari TKD saya mendapatkan kebiasaan untuk menghormati dan menghargai orang lain.

4. Kepekaan Sosial
Tidak seperti sekarang yang sudah mulai menjamur klub TKD yang eksklusif, pada masa saya latihan dulu segala macam orang (mulai dari direktur sampai tukang parkir) latihan di tempat (lapangan) yang sama. Semakin dalam pelajaran kehidupan yang saya dapat ketika "si miskin" sabuknya lebih tinggi dari "si kaya". Saya juga belajar cara menganalisa dan membaca berbagai tipe orang dari keanekaragaman manusia ini.

5. Fighting Skills
Dalam Jeet Kune Do ada 4 jarak pertarungan tangan kosong (jarak tendang, pukul, clinch, dan ground). Walau kini saya sudah banyak diwarnai oleh tendangan Muay Thai, tapi untuk jarak tendang saya berhutang banyak sekali kepada Tae Kwon Do.


Tidak hanya soal tendangan, beberapa hal yang saya dapat dari TKD sehubungan dengan fighting skills ini adalah: Flexibility, Agility, dan Adaptablity.

Agak pamer sedikit, banyak orang kaget melihat kecepatan gerakan saya terlebih lagi karena badan saya yang melar. Entah kenapa kecepatan dan kelincahan dari TKD itu melekat hingga kini. Saya juga masih menyisakan lumayan flexibility yang berguna sekali dalam belajar grappling sekarang ini.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah adaptability. Pengalaman saya mengajar beberapa fighter yang ex-TKD selalu saja berjalan sukses dan ces-pleng. Seorang yang punya pengalaman cukup di TKD biasanya mudah sekali adaptasi kepada aliran beladiri lain. Mareka sudah punya pola langkah yang baik, pengalaman sparring, logika teknik beladiri dll.

Demikianlah sekilas tentang beberapa hal bermakna yang saya dapatkan dari TKD. Bukan maksud saya memuji TKD secara berlebih-lebihan, tapi ini adalah pengalaman saya. Sebagian besar hal yang saya pelajari (kecuali mungkin fighting skills), sebenarnya bisa juga kita dapatkan dari sekolah, klub bola, karang taruna, sanggar tari atau dari tempat lainnya. Toh, kebaikan bisa datang dari manapun juga.

semoga bermanfaat

Thanks to: Sabeum Alfiandri (Dan II), Sabeum Pebro (Dan III), Sabeum Alex (Dan V), Sabeum Suryadi (Dan III), Sabeum Maurist Dominggus (Dan V), Sabeum Mujiman (Dan V), Sabeum Niko (Dan II), Heri (Hijau), Eddy (Dan I), Marcell(Dan I), Donny (Hijau), Faisal (Biru), Daus (Kuning), Resdy (Dan I), Monik (Merah), Herry (Dan I), Rifky (Dan I), Fajar (Biru), Budi (Biru), Aryo (Merah), Rudi (Biru), Iqbal (Dan II), Peno (Dan I), and all my TKD family.

Thursday, April 12, 2007

Artikel: Evolution in Martial Arts

Saya bukan Charles Darwin, dan saya juga tidak akan mengatakan bahwa seni beladiri merupakan ilmu yg berasal dari monyet. Yang ingin saya sampaikan di sini ialah bahwa terlihat jelas bahwa berbagai seni beladiri yg melakukan cross training, sparring, competition dll selalu lah ber-evolusi.

Satu contoh yang paling konkrit ialah Boxing. Coba saja lihat fighting position dari petinju-petinju klasik. Jangan kaget kalau kita akan menemukan posisi-posisi tangan yang mirip dengan bela diri tradisional (tangan dipinggang, pukulan lurus, kepala terbuka dll).

Pertanyaan penting di sini ialah: Mengapa mereka berubah?

Mereka memang terpaksa harus berubah. Kecuali ingin bonyok dan penyok muka, perlahan tapi pasti semua orang yg pernah berlatih pertarungan secara realistis pasti sadar bahwa merupakan suatu keharusan untuk menjaga kepala.


Evolusi kecil-kecilan bahkan saya temukan dalam latihan rutin. Setiap murid yang baru, biasanya masih membawa kebiasaan lamanya (tangan dipinggang, kuda2 rendah dl). As usual, pakai gloves, pakai helmet, dan latihan beberapa drill. Sekali dua kali kepalanya terkena pukulan, sang anak baru biasanya secara natural akan cepat tanggap melindungi kepalanya. Posisi kaki alias footwork secara perlahan mulai cair, lancar dan relax. Dibanding harus menjelaskan sampai berbusa soal pentingnya "tangan di atas", cara ini jauh lebih efektif.

Intinya adalah, melalui berbagai persilangan metode, sparring, cross-training, ataupun kompetisi, seni beladiri ternyata berevolusi. Sekarang mari kita tanya diri kita masing-masing, sudahkah kita ber-evolusi?

semoga bermanfaat

Artikel: Old Way Selalu Benar?

Pernah saya bertanya kepada seorang kawan alasan mengapa ia melakukan suatu teknik dengan cara tertentu. Ia menjawab bahwa ia begitu karena ia diajarkan untuk melakukannya begitu. Ketika saya tanya lebih jauh, kawan saya itu berargumentasi bahwa cara itu adalah cara yang ditemukan dan diajarkan oleh sang Guru Besar yang hidup di abad lalu di negeri seberang nun jauh di sana.

Kawan saya itu percaya mati-matian bahwa Guru Besar-nya tidak mungkin salah. Argumentasinya ialah bahwa sang Guru Besar hidup di jaman yang penuh konflik bahkan perang, sehingga cara yang dirumuskannya pastilah "battlefield tested" alias sudah teruji.

Saya tentu tidak akan membantah bahwa banyak beladiri kuno yang teruji secara praktek dan sangat mematikan. Yang ingin saya bahas di sini, lagi-lagi, adalah soal ketertutupan pikiran dan sikap tidak kritis terhadap "the old way".

Kita seringkali secara membabi-buta (walau ternyata ada penelitian yg menyatakan bahwa babi yg buta cenderung diam) yakin 100% bahwa teori beladiri kuno pasti paten karena dirumuskan oleh seorang maha guru dan teruji. Namun kita tidak pernah mempertanyakan, apakah kondisi situasi lingkungan saat itu relevan dengan masa kini? Mulai dari segi persenjataan, fisik sang guru besar, lingkungan, kondisi daratan, sampai fashion alias cara berpakaian?

Betul bahwa banyak warisan masa lalu yang jenius dan melampaui jamannya. Tapi perlu kita sadari bahwa banyak juga yang salah, meleset, ataupun tidak lagi sesuai dengan masa kini.


Penting juga diingatkan bahwa ahli pikir masa lalu pernah berpikir bahwa bumi itu rata. Orang dulu berpikir bahwa kalau kita berlayar jauh sampai ujung, kita bisa jatuh terjun dari pinggiran lempengan bumi. Atau yang agak lokal sedikit, gerhana dulu didefinisikan dengan matahari yang mau dilahap oleh buto alias raksasa.

Sekali lagi, saya bukan bermaksud meremehkan "the old way". Sebagaimana juga sebetulnya "the new way", those ways are made by human being alias manusia, dan manusia sudah tidak diragukan lagi besarnya potensi untuk salah.

Learn the Old to Understand The New, begitu menurut Gichin Funakoshi.

semoga bermanfaat