JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Wednesday, May 23, 2007

Artikel: Perhatikan Gerakan Orang Tua!

Dalam JKD ada prinsip yang namanya "Economy of Motion". Mudahnya, prinsip ini mengajarkan untuk tidak membuang energi dengan melakukan gerakan-gerakan percuma yang tidak ada hubungannya dengan tujuan pelaksanaan teknik.

Saya dapat pelajaran menarik dari suatu pengalaman sederhana. Beberapa waktu lalu saya kumpul duduk-duduk lesehan di lantai bersama sanak saudara. Secara tidak sengaja saya memperhatikan bagaimana cara beberapa keluarga saya yang sudah tua, untuk bangun dari duduknya yang bersila di lantai.

Aneh bin ajaib, walaupun setahu saya mereka tidak pernah belajar beladiri, cara mereka bangun dari duduk hampir persis dengan teknik cara berdiri yang saya pelajari di Brazilian Jiujitsu!

Sejak itu saya mulai berpikir untuk mulai memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua. Orang tua tidak lagi memiliki kondisi fisik yang sama dengan orang muda. Bagi mereka, prinsip Economy of Motion merupakan suatu keniscayaan. Mereka secara otomatis (walau tidak pernah belajar beladiri) akan menghemat penggunaan energi yg tidak perlu dalam melakukan gerakan sehari-hari.

Nah, kalau memperhatikan gerakan sehari-hari dari para orang tua yang tidak bisa beladiri saja kita sudah bisa mendapatkan manfaat, apalagi kalau kita memperhatikan gerakan beladiri dari maestro beladiri yang sudah tua!

Prinsip "Hemat Energi, Hemat Biaya" ala jargon PLN biasanya benar-benar diterapkan oleh maestro beladiri yang sudah tua. Mereka tidak kuat lagi menanggung "biaya" dalam membela diri seperti orang muda bila menggunakan energi secara boros.

Di Cianjur minggu lalu saya enggan berkedip menyaksikan Aki Ita (84 tahun) keasikan ngibing pencak cianjuran. Belum lagi ketika beliau nempel berpasangan, sorot matanya tajam, gerakannya mantap, sederhana, dan hemat energi.

Hal yang sama pasti juga akan kita lihat kalau kita memperhatikan gerakan Grandmaster Helio Gracie (Gracie Jiujitsu), Babe Ali Sabeni (Silat Sabeni Tenabang), Engkong Salim (Silat Paseban Lama), atau guru-guru "sepuh" lainnya.

Selain pastinya berpahala kalau kita memperhatikan keluarga atau guru-guru kita yang sudah tua, kita juga banyak bisa belajar dari mereka.

semoga bermanfaat

ps: foto aki ita saya comot dari blog-nya om nagapasa http://nagapasa.multiply.com/photos/photo/14/11

Monday, May 21, 2007

Artikel: How Sensitive Are You?

Artikel ini tentunya tidak akan bicara soal sensitivitas hati. Kali ini saya akan mengulas soal pentingnya "sensitivity" alias "rasa" dalam seni beladiri. Sudah cukup banyak fenomena tentang aspek yang satu ini melintas di hadapan saya dalam belajar seni beladiri sehingga mustahil kalau saya abaikan begitu saja.

Mungkin karena saya agak kurang ekspresif orangnya sehingga tidak ada rekan latihan saya dalam belajar silat Cikalong yang sadar bahwa saya sebetulnya terkejut setengah mati pada saat awal belajar dulu ketika melihat posisi nempel antara sikap "pasang" dan "nutup" ala Cikalong.

Bagaimana tidak, posisi itu nyaris identik dengan posisi "Chi Sao" (sticky hands) dari Wing Chun Kung Fu. Coba saja bandingkan sendiri foto klasik maestro Cikalong Gan Uweh dan Gan Muhidin yang sedang "nempel" dengan foto klasik Grandmaster Yip Man dan Bruce Lee yang sedang Chi Sao. Serupa tapi tak sama!

Urusan "rasa" alias "sensitivitas" ini memang banyak sekali eksis dalam berbagai aliran seni beladiri. Di Tai-Chi misalnya, ada yang namanya Tui Shao (Pushing hands).

Ada 2 fungsi pokok yang biasanya diajarkan dalam permainan melatih sensitivitas ini yaitu: 1) Membaca energi lawan sehingga bisa merasakan bagian-bagian yang "bolong" alias lengah, dan 2) Mendeteksi "niat" lawan, mau ke arah mana dia menggunakan energinya untuk menyerang.

"Numpangkeun lengeun", "Chi Sao", ataupun "Tui Sao" adalah metode latihan untuk meningkatkan sensitivitas. Ada banyak metode-metode latihan lainnya baik dalam beladiri tradisional ataupun modern.

Jangan dikira bahwa dalam beladiri "modern" sensitivitas bukan hal penting. Khususnya dalam jarak pertarungan clinch ataupun groundfighting, sensitivitas memegang peranan penting. Dalam belajar Brazilian Jiujitsu bahkan ada masa-masa kita dianjurkan untuk sparring sambil tutup mata alias merem.

Dalam bergulat di berbagai senibeladiri grappling (judo, jujutsu, gulat dll), sensitivitas ini juga memiliki 2 fungsi yang sama seperti yang dijelaskan di atas. Salah deteksi, bisa-bisa kita yang "nyungsep" kena takedown.

Hal yang sama juga berlaku dalam bertinju (boxing) ataupun KickBoxing. Pada saat clinch kita harus pandai-pandai membaca lawan. Salah-salah kita bisa KO kena uppercut atau serangan lutut yang menyusup dari bawah!

Jadi, penting untuk diingat bahwa teknik beladiri bukan sekedar kerasnya pukulan ataupun tendangan. Kemampuan untuk mendeteksi energi lawan melalui tingkat sensitivitas dan jam terbang sparring yang tinggi bisa menyelamatkan kita dalam pertarungan.

semoga bermanfaat

Monday, May 14, 2007

Artikel: Makin Belajar Makin Bodoh

Judulnya saya bikin begitu sebenarnya biar provokatif saja. Tapi memang beberapa waktu belakangan ini saya makin merasa kalau dalam belajar ilmu seni beladiri, makin kita belajar kita bakal makin (merasa) bodoh.

Ada banyak kejadian yang membuat saya berpikiran demikian. Mulai dari latihan JKD sama Yuri, memperdalam Brazilian Jiujitsu sama Niko Han, sampai ikut wisata silat ke Cianjur untuk melihat seni Maenpo Cianjur (a.l Cikalong, Cikaret, dan Syahbandar).

Oleh karena itu saya makin curiga kalau ada orang yang merasa paling pintar atau paling hebat setelah belajar seni beladiri, bisa jadi mereka itu salah jalan.

Sebagaimana ilmu-ilmu yang lain, ilmu seni beladiri itu sangatlah luas, menarik, dan indah. Untuk itu jangan kita batasi diri kita dalam menuntut ilmu yang baik. Jangan merasa hebat cepat-cepat, karena siapa tahu yang kita punya baru segenggam pasir dari pinggiran lautan yang sangat luas.

Be a Lifetime Student of Martial Art!

semoga bermanfaat

Thursday, May 10, 2007

Artikel: When in Doubt...

Bagi yang sering sparring pasti pernah merasakan mendadak pikiran blank, bingung, ataupun tidak fokus. Momen itu biasanya hanya terjadi beberapa detik namun dalam situasi fight bisa fatal akibatnya.

Untuk itulah sebaiknya kita harus punya gerakan-gerakan sederhana yang efektif yang kita taruh di alam bawah sadar kita sehingga bisa sekejab kita keluarkan ketika kita dalam keadaan lengah atau pikiran kosong.

Setiap orang boleh berbeda pilihan gerakannya. Berikut adalah pilihan saya:
1. When in doubt...Jab!
Jab adalah pukulan paling penting dalam boxing. Barang siapa melatih jab-nya dengan baik sehingga memiliki jab yang powerful, maka ia tidak akan memerlukan pukulan kedua untuk meng-KO lawan.
Jab memenuhi syarat sebagai serangan sederhana yang ampuh. Dalam JKD, Jab sering digunakan sebagai contoh SDA (single direct attack, lihat artikel JP yang lalu tentang 5 ways of attack ).
Jab juga akan mengganggu konsentrasi lawan ataupun membuyarkan rencana lawan untuk menyerang kita. Begitu kita lelah, bingung, bengong, dan tidak punya strategi kombinasi pukulan untuk diluncurkan... pokoknya... Jab!

2. When in doubt...Straight Blast!

"Absolutely every serious altercation that I ever saw Bruce Lee in, he would execute a straight blast to his opponent." ...Dan Inosanto

Terus terang saya tidak terlalu mahir dalam bertinju. Dalam situasi-situasi khusus akhirnya saya selalu back to basic.
Pukulan "straight blast" atau "chain punch" atau Jik Chung Chuie (dalam Wing Chun Kungfu) merupakan pukulan sederhana yang dahsyat manfaatnya.
Jika dilakukan dengan cepat dan kuat, pukulan ini mampu "merengsek" mengacak-acak wajah lawan tanpa lawan bisa meng-counter nya. Pukulan beruntun ini juga efektif dalam situasi beladiri dimana kita ingin menerobos kerumunan untuk kabur mencari jalan keluar.
Dalam perkembangannya di dunia JKD, pukulan ini sudah di modifikasi menjadi "Boxing Blast" seperti yg pernah dipakai Vitor Belfort. Tapi saya pribadi lebih memilih menggunakan versi asli dari Wing Chun.

3. When in doubt...Shrimp! Shrimp! Shrimp!
Ketika kita stuck, hampir gepeng ditimpa lawan dalam ground fighting, ada satu gerakan yang harus secara otomatis kita lakukan...Shrimp!
Sampai sekarang ini masih menjadi masalah saya dalam ground fighting. Saya kurang shrimp, shrimp, and shrimp! begitu paling tidak kata Yuri Amadin ataupun Niko Han dalam mengevaluasi kemampuan ground fighting saya.
Keajaiban dari shrimp adalah bahwa hampir semua gerakan escape dalam ground fighting mendasari pada gerakan meniru bongkok udang ini. Jadi shrimp adalah teknik pokok kalau mau survive dalam ground fighting.
Demikianlah 3 teknik yang menurut saya harus ditanamkan di alam bawah sadar kita. Sehingga kalau mendadak bengong dan bingung dalam bertarung kita tidak KO dihajar lawan.
Apa teknik pilihan anda?
semoga bermanfaat

Artikel: Martial Artist as a Secret Identity?

"Sini dompet lo!" gertak si preman berbadan besar

"Saya nggak punya duit bang... maap bang saya buru-buru...permisi..." jawab si kerempeng berkacamata dengan nada tenang.

"Eh...enak aja lo!" bentak si preman sambil mencengkram kerah baju pemuda kerempeng dan menggoyang-goyangkan badan kurus itu sampai kacamatanya melorot.

...WUUUUUT......GUUBBRAAAAK!!!!

Badan si preman berputar di udara dan jatuh terbanting keras di atas punggungnya. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa si pemuda kerempeng adalah seorang ahli beladiri.

Seru sekali membaca kisah seperti di atas itu. membaca kisah seperti itu hati kadang bergemuruh, hidung kembang-kempis, bahkan ada yg matanya berkaca-kaca. Siapa pula yang tak ingin jadi seperti si pemuda kerempeng? atau dalam variasi lainnya sering digambarkan sebagai anak kecil, kakek tua renta, nenek-nenek, perempuan kalem, cewek tomboy dll? Siapa yang menolak jadi jagoan tapi tidak sombong? Belum lagi kalau ditambahkan bumbu-bumbu percintaan dalam kisah seperti itu...wuiiihh...mak nyus!

Clark Kent Wannabe

Clark Kent adalah seorang superhero yang sering pura-pura kikuk untuk menyembunyikan identitas rahasianya sebagai superman. Sementara Clark Kent wannabe adalah orang-orang yang berusaha "terlihat" menyembunyikan identitasnya agar dianggap rendah hati seperti clark kent.

Jenis yang wannabe seringkali bisa ditemui di komunitas beladiri. Beberapa tipe yg pernah saya temui antara lain seseorang yang mati-matian menyangkal pernah belajar beladiri tapi selalu komentar ataupun minta ditanya opininya tentang teknik-teknik beladiri. Ada juga yang datang ke tempat latihan mengaku newbie tapi ketika sparring mendadak seperti kesurupan ken shamrock. Banyak sekali orang yang berusaha terlihat rendah hati (pada beberapa kasus ekstrim bahkan terlihat rendah diri) dan di saat yg sama berusaha keras mencari momen untuk menunjukkan siapa dirinya dan betapa ia lebih hebat dari kelihatannya.

Martial Artist is NOT Superman

Kita seringkali merasa hebat, padahal sebetulnya biasa saja. Kita seringkali terpaksa harus menutup-nutupi kalau kita belajar seni beladiri hanya karena khawatir dianggap menyombongkan diri.

Saya tentu tidak mendorong orang untuk pakai T-shirt bertuliskan "Saya Jago Beladiri". Tapi saya ingin membongkar fantasi "clark kent wannabe" yang banyak diidap oleh seniman beladiri. Saya ingin mendorong agar kita para seniman beladiri jangan berusaha "terlihat" rendah hati (padahal rendah diri), melainkan mulai berusaha mempraktekkan kerendahan hati yang sesungguhnya dengan bertingkah normal dan dengan tanpa menyombongkan diri berusaha memberi contoh bahwa dengan belajar seni beladiri kita sebagai manusia bisa bermanfaat bagi manusia lainnya.

It's a bird... No... it's a plane...No..It's Martial Artist!

semoga bermanfaat