Artikel: Cross Training dan Seni Kerendahan Hati

Pada tulisan itu saya menceritakan kisah klasik ajaran Zen dimana seorang murid yang ingin "merasakan teh dari sang guru Zen" tanpa mengosongkan terlebih dahulu cangkirnya, sehingga teh di cangkirnya luber dan tumpah kemana-mana.
Saya terdorong untuk menulis lagi soal ini karena pengalaman baru-baru ini. Dalam sebuah sesi latihan beladiri yg saya ikuti, saya lagi-lagi bertemu dengan seorang guru beladiri aliran lain yang hadir untuk kesekian kalinya. Saya sedikit terkejut karena sang guru beladiri itu masih juga belum ikut latihan. Diskusi yg berjalan belum beranjak banyak dari pertemuan pertama. Sang guru beladiri masih belum juga "mengosongkan cangkirnya" dan masih kerap mengucap "Kalau di aliran kami...", atau "Sama, tapi di tempat kami ..." dst dst. Saya tentu tidak berani menyalahkan guru beladiri tsb karena setiap orang menjalani proses yg berbeda dalam cross training. Ada yang lama dan perlu proses, ada yang langsung, ada yang terbuka, ada yang sembunyi-sembunyi dlsb.
Yang ingin saya soroti dalam tulisan ini ialah soal beratnya melakukan cross training buat banyak orang yang berada pada posisi sensei, sifu, sabeum, guru dll. Memang cross training memerlukan suatu kebesaran hati dan keterbukaan pikiran yang agak luar biasa. Tidak banyak guru beladiri yg mau lagi latihan kuda-kuda, jurus pemula dll.
Saya betul-betul kagum dan hormat kepada sahabat-sahabat saya di Komunitas Sahabat Silat
Saya tahu persis banyak dari sahabat saya disana adalah seorang pendekar, guru utama, pelatih, bahkan paranormal kesohor. Namun dalam melakukan latihan silat aliran lain, mereka tak segan dan tak ragu, langsung menyingsingkan lengan baju dan ikut berlatih mulai dari jurus-jurus awal lagi. Tak pernah terucap dari mereka kalimat-kalimat yang nadanya mengunggulkan diri atau alirannya masing-masing. Salut!
Terngiang pesan dari Guru Silat Cingkrik kami Bapak Bambang Sudrajat:
"Kalo mau berguru, kantongin dulu ilmu yang kita punya!"
Kalimat di atas sebetulnya memiliki makna yang sama dengan pesan kisah Zen di atas, hanya saja yang ini versi betawi.
"Ngantongin Ilmu" atau "Mengosongkan Cangkir" tentu tidak sama dengan berbohong atau menutup-nutupi. Kita harus terbuka dan memberitahu niat kita. Kita juga harus menginformasikan kita pernah belajar beladiri apa saja. Namun demikian ketika sudah mulai latihan, janganlah terburu-buru mengomentari dan membandingkan. Pelajari, latih, dan dengarkan dulu. Pasti ada alasannya mengapa kita hanya diberi 1 mulut tapi 2 buah telinga kan?
Berlatih beladiri lain (cross training) memang tidak mudah. Dalam Cross Training kita tidak hanya belajar berbagai teknik seni bela diri, tapi kita juga belajar Seni Kerendahan hati.
semoga bermanfaat














