JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Monday, July 09, 2007

Artikel: Cross Training dan Seni Kerendahan Hati


Mudah-mudahan saja ada yang masih ingat pesan dari tulisan saya di Artikel: Empty Your Cup
Pada tulisan itu saya menceritakan kisah klasik ajaran Zen dimana seorang murid yang ingin "merasakan teh dari sang guru Zen" tanpa mengosongkan terlebih dahulu cangkirnya, sehingga teh di cangkirnya luber dan tumpah kemana-mana.

Saya terdorong untuk menulis lagi soal ini karena pengalaman baru-baru ini. Dalam sebuah sesi latihan beladiri yg saya ikuti, saya lagi-lagi bertemu dengan seorang guru beladiri aliran lain yang hadir untuk kesekian kalinya. Saya sedikit terkejut karena sang guru beladiri itu masih juga belum ikut latihan. Diskusi yg berjalan belum beranjak banyak dari pertemuan pertama. Sang guru beladiri masih belum juga "mengosongkan cangkirnya" dan masih kerap mengucap "Kalau di aliran kami...", atau "Sama, tapi di tempat kami ..." dst dst. Saya tentu tidak berani menyalahkan guru beladiri tsb karena setiap orang menjalani proses yg berbeda dalam cross training. Ada yang lama dan perlu proses, ada yang langsung, ada yang terbuka, ada yang sembunyi-sembunyi dlsb.

Yang ingin saya soroti dalam tulisan ini ialah soal beratnya melakukan cross training buat banyak orang yang berada pada posisi sensei, sifu, sabeum, guru dll. Memang cross training memerlukan suatu kebesaran hati dan keterbukaan pikiran yang agak luar biasa. Tidak banyak guru beladiri yg mau lagi latihan kuda-kuda, jurus pemula dll.

Saya betul-betul kagum dan hormat kepada sahabat-sahabat saya di Komunitas Sahabat Silat
Saya tahu persis banyak dari sahabat saya disana adalah seorang pendekar, guru utama, pelatih, bahkan paranormal kesohor. Namun dalam melakukan latihan silat aliran lain, mereka tak segan dan tak ragu, langsung menyingsingkan lengan baju dan ikut berlatih mulai dari jurus-jurus awal lagi. Tak pernah terucap dari mereka kalimat-kalimat yang nadanya mengunggulkan diri atau alirannya masing-masing. Salut!

Terngiang pesan dari Guru Silat Cingkrik kami Bapak Bambang Sudrajat:

"Kalo mau berguru, kantongin dulu ilmu yang kita punya!"

Kalimat di atas sebetulnya memiliki makna yang sama dengan pesan kisah Zen di atas, hanya saja yang ini versi betawi.

"Ngantongin Ilmu" atau "Mengosongkan Cangkir" tentu tidak sama dengan berbohong atau menutup-nutupi. Kita harus terbuka dan memberitahu niat kita. Kita juga harus menginformasikan kita pernah belajar beladiri apa saja. Namun demikian ketika sudah mulai latihan, janganlah terburu-buru mengomentari dan membandingkan. Pelajari, latih, dan dengarkan dulu. Pasti ada alasannya mengapa kita hanya diberi 1 mulut tapi 2 buah telinga kan?

Berlatih beladiri lain (cross training) memang tidak mudah. Dalam Cross Training kita tidak hanya belajar berbagai teknik seni bela diri, tapi kita juga belajar Seni Kerendahan hati.

semoga bermanfaat

Wednesday, July 04, 2007

Artikel: JKD is NOT a Bruce Lee Fans Club


Beberapa waktu lalu saya ditelpon oleh seorang kawan yang ingin menanyakan betul atau tidaknya kabar bahwa Bruce Lee pernah kalah bertarung ketika menantang seorang guru silat gayong dari Malaysia. Rupanya kawan saya itu membaca di internet, tepatnya disini: http://www.geocities.com/gayong_utmkl/mahaguru.html

Lebih jauh lagi, ia juga mencoba mengkonfirmasi kabar yang ia baca dari suatu mailing list bahwa Bruce Lee pernah datang ke Bogor untuk menantang seorang guru Cimande, dan terpental jauh sebelum mampu menyentuh tubuh sang jawara Cimande.

Jawaban saya keliatannya tidak terlalu memuaskan sang kawan. Walaupun kabar-kabar itu terdengar konyol setengah mati, namun saya sebagai orang yg mendalami JKD sama sekali tidak tertarik menanggapinya.

Mengapa begitu? karena buat seorang penganut JKD, yang sebetulnya patut dikagumi dari Bruce Lee adalah konsep teknik beladiri yg ia susun secara ilmiah, jujur, dan revolusioner. JKD bukanlah sebuah Bruce Lee Fans Club. Bruce Lee bisa saja kalah, K.O, keok, nyungsep dll, tapi konsep JKD-nya terbukti telah membuka mata banyak orang yg berani jujur pada dirinya sendiri dengan mempertanyakan berbagai sistem seni beladiri.

Karakter Bruce Lee dalam berbagai film-nya memang sering membuat banyak orang terkecoh. Orang seringkali memberi stigma arogan, angkuh, 'raja kungfu', sok, sombong dll. hanya dengan menilai karakter Bruce Lee dalam film-filmnya. Tidak banyak orang yg tahu atau mau tahu bahwa Bruce Lee sebenarnya orang yg terbuka pikirannya dan banyak belajar kepada orang lain. Ia belajar berbagai aliran Kungfu, ia belajar grappling pada Gene LeBell sang jawara Judo, bahkan Bruce Lee belajar memainkan senjata dari muridnya sendiri Dan inosanto.

Lagipula, Bruce Lee adalah superstar. Banyak orang berusaha mengasosiasikan dirinya dengan Bruce Lee (pernah mengajari Bruce Lee, pernah meng-KO Bruce Lee dll). Selalu ada saja orang yang berusaha "numpang ngetop" dengan mendompleng nama Bruce Lee. Tapi sekali lagi, kalaupun Bruce Lee kalah dari orang lain maka justru itu merupakan berita menggembirakan karena berarti Bruce Lee belajar banyak dari orang lain.

Kita lebih banyak belajar ketika kita kalah daripada ketika kita menang bukan?

Sikap seperti ini mungkin sulit dimengerti buat beberapa perguruan beladiri lain yg seringkali mengkultuskan guru besarnya. Seorang penganut JKD sejati haruslah kritis, bahkan terhadap Guru Besar-nya sendiri. Contohnya, kurikulum JKD sekarang sudah berbeda dengan yang digunakan Bruce Lee pada masa lalu. JKD harus terus dinamis dan kritis. Buat saya, sikap mengkultuskan individu Guru Besar bukanlah sikap perguruan beladiri, sikap seperti itu adalah sikap sebuah Fans Club.

semoga bermanfaat

Monday, July 02, 2007

Artikel: Suatu Sore di Cilandak Town Square

Sore kemarin saya bertemu seorang kawan lama di Cilandak Town Square (Citos). Sambil menyeruput kopi lokal cap amerika-nya yg mengepul panas, kawan saya itu mulai bertanya-tanya soal beladiri.

"Gue tertarik nih ikut latihan di tempat elo... gue cocok sama pendekatannya" katanya sambil menghisap dalam-dalam rokok Sampoerna A-Mild-nya.

"Tapi...ya itu masalahnya". dia mengucapkannya sambil menunduk memotong Cheesse cake yang kelihatan lezat itu.

"Masak 300ribu/bulan...mahal banget sih" kalimatnya terhenti karena dompet kulit kunci mobilnya ketumpahan abu rokok.

"Dulu waktu SMA gue latihan TaeKwonDo cuman bayar Rp.15ribu/bulan...elo jadi guru beladiri jangan komersil dong!"

Kalimat terakhirnya membuat saya terpancing. Akhirnya pidato lah saya soal pemikiran saya tentang hal ini. Sebagaimana pernah saya tulis dalam Artikel: Nasib Guru Bela Diri

Saya juga mengupas soal perbedaan antara Profesionalisme dan Komersialisme. Seorang guru bela diri yang profesional adalah guru beladiri yg mendedikasikan dirinya secara bertanggungjawab untuk menurunkan ilmu senibeladiri yg dimilikinya kepada murid2nya. Ia memiliki etika tersendiri dan akan terus menerus memperdalam ilmu dan memperbaiki metode pengajarannya.

Sementara guru bela diri yang komersil ialah guru beladiri yg berorientasi uang semata. Ia akan menciptakan beragam tingkatan ataupun jurus untuk mendapatkan semakin banyak uang ujian ataupun uang latihan. Ia tidak bertanggungjawab akan kualitas murid yg dihasilkan dan ia pun tidak merasa perlu untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuannya. Satu-satunya yg perlu ia lakukan ialah mempertahankan Hegemoni dan mitos yg ada padanya.

Saya juga menjelaskan soal betapa guru beladiri dianggap mulia secara sosial tapi dipandang rendah secara finansial. Betapa ringan orang membayar untuk rokok, nonton film di bioskop, ataupun secangkir kopi dengan harga yg tidak murah, tapi langsung berhitung ketat ketika harus membayar latihan senibeladiri.

Bagaimana dengan murid yg tidak punya uang?

To set the record straight, saya ingin menegaskan bahwa saya ini masih belum gila. Bila ada seseorang yg menunjukkan semangat dan dedikasinya untuk belajar namun tidak memiliki cukup uang, pastilah saya akan dengan senang hati mengajarkan ilmu saya kepadanya tanpa bayaran sepeser pun. Sampai saat ini pun, saya memiliki beberapa murid yg demikian.

Kalau guru-guru pada zaman dulu mengharapkan loyalitas dan dedikasi yg berat untuk menempuh "jalur gratis" ini, saya hanya meminta mereka untuk serius latihan dan menghargai pelajaran yg saya berikan.

Panjang lebar saya ceramahi kawan lama itu. Tak terasa, matahari pun mulai terbenam

Si kawan lama terdiam dan terlihat termenung...

"Oooh... jadi ada jalur gratis ya?" katanya sambil memandangi tiket nonton film di bioskop 21-nya yg sebentar lagi akan mulai.

"Gimana kalau gue ikut lewat jalur gratis itu aja? Boleh kan? Persahabatan ok? Ok deh, nanti gue hubungi lagi ya... gue harus cabut dulu...Byee" katanya sambil beres-beres i-Pod nya dan beranjak menuju bioskop 21

Sore itu saya termenung di Cilandak Town Square. Rasanya dibayar berapapun saya pasti enggan mengajar calon murid seperti kawan lama itu. Saya hanya berdoa semoga perjuangan meningkatkan harkat martabat guru bela diri dan apresiasi terhadap seni beladiri di negeri ajaib ini tidaklah sia-sia

semoga bermanfaat