
Dengan berbagai perkembangan teknologi yang ada pada zaman sekarang ini, semakin sedikit alasan kita untuk tidak berlatih secara realistis namun tetap aman, smart, dan sehat. Berbagai jenis helm, armor, body-protector dll telah banyak tersedia di pasar lokal maupun luar negeri.
Sederhana saja rumusnya: We will fight the way we train. Apa dan bagaimana latihan kita, itulah yang akan keluar pada saat kondisi kita memerlukannya. Semakin dekat cara latihan kita kepada kondisi tersebut, semakin besar kemungkinan kita untuk suskses selamat bila sampai mengalaminya. Kita akan bertarung sebagaimana kita berlatih, itu kuncinya.
Namun demikian, setiap hal kreasi manusia pasti ada kekurangannya, termasuk mengenai realistic training dengan perlengkapan modern ini. Artikel ini bermaksud mengingatkan kita semua (yang menjalankan realistic-training) untuk tetap mengingat suatu hal yang penting untuk terus dihormati yaitu: ”Rasa Sakit”.
Saya pernah melihat beberapa kawan yang latihan sparring stick-fighting dengan armor yang lengkap. Mereka saling berbalas pukul bertubi-tubi dengan intensitas dan ketukan yang super cepat sehingga bunyinya nyaris menyaingi suara drummer Power Metal sedang latihan di tengah panas teriknya kota Surabaya.
It’s a good drill, good sparring, good sport, good training. Salah satu yang kurang dari metode sparring tsb adalah: Lack Respect for Pain!
Saya pribadi sering mengalami hal tsb dalam latihan. Pernah dalam suatu sparring vale-tudo saya jatuh kebawah, kawan saya berada di atas (mount position) dan menghujani kepala saya dengan pukulan sangat keras 4-5 kali. Karena saya menggunakan helm pelindung yang bagus (dengan cage full face), saya tidak KO dan mampu menyelamatkan diri (escape) dan berdiri lagi.
Selesai sparring, saya berpikir dan menyadari dengan penuh bahwa saya sebenarnya sudah KO bahkan pada detik awal latihan tadi. Saya sadar bahwa sebenarnya tidak perlu pukulan ke-2,3, atau 4 untuk membuat saya pingsan. Helm pelindung yang baik, menyelamatkan saya untuk tetap bisa belajar terus menerus dengan kondisi yang realistis.
Untuk menutupi kekurangan dalam metode ini maka yang kita perlukan ialah: 1)kesadaran, 2)kemampuan meng-evaluasi, dan 3)penghormatan terhadap rasa sakit.
Setiap kali kita terkena pukulan di wajah kita yang tertutup helm, setiap kali tongkat lawan menyabet tangan kita yg tertutup glove-protector, kita harus ingat bahwa sesungguhnya ada rasa sakit di sana dan hal itu perlu kita hormati dengan kesadaran.
Namun demikian kekurangan ini bukan alasan bagi kita untuk kemudian menghindari realistic-training. Walaupun metode realistic-training juga memiliki kekurangan di sana-sini, namun metode ini masih lebih baik daripada kita sekedar memukul, menendang atau menebas angin kesana-kemari. Ingatlah sekali lagi rumusnya: "Kita akan bertarung sebagaimana kita berlatih."
Semoga bermanfaat
7 Comments:
Bos ery, good thought that you put on this article.
Tp harus diingat juga, full armor yg anda perlihatkan di sini tetap diperlukan pada kelas2 realistic training (non-sparring) misalnya Urban combat, women's self defense, yg lebih menekankan hit and run approach pada muridnya. Kalo tidak, apakah sang pelatih mau absorb pain pada groinnya?
as for stick fighting, pain is still there eventhough u wear a full armor. The armor just to make sure the students will still be able to stand and show up in the next classes :) After all we all have our own social life to live on day after day right? it's a different matter when it comes to professional fighters.
Halo Bos Teuku, terimakasih atas masukannya. Anda betul banget soal bahwa after all we all have our own social life...hehehe nggak terlalu keren kalo jalan-jalan ke mall dengan kepala bocor akibat stickfighting :) makanya, Train Hard, Train Smart! Thanks!
lho katanya train smart hit hard...:)
respect the pain.
sama dengan ajaran dari babeh nani. keren mas, tulisannya.
Wah, ada murid Silat Gerak Saka mampir sini. Salam kenal Mas Didit, terimakasih sudah mampir. Salam hormat buat Babe Nani. Teman saya yang coba silaturahmi ke tempat Babe Nani habis tuh ditabokin, malah ada yg dapat ciuman mesra segala hahahahaha
jadi ingat cerita pendekar2 di kampung saya tentang pertandingan pencak silat tempo dulu yg berdarah2.
tapi skrg sdh diminimalisir dg rule yg ketat dan pelindung badan dan kepala tanpa mengurangi makna dari seni beladiri pencak silat tsb.
Hehe jadi inget wakut pertandingan kulata, Pelindungnyah cuma Helmet, tapi sticknyah di lapisi sepon, ehh besoknyah biru semuda dehh yang habis kena pukul....
salam
Post a Comment
<< Home