JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Wednesday, January 23, 2008

Artikel: Respect The Pain!

Dengan berbagai perkembangan teknologi yang ada pada zaman sekarang ini, semakin sedikit alasan kita untuk tidak berlatih secara realistis namun tetap aman, smart, dan sehat. Berbagai jenis helm, armor, body-protector dll telah banyak tersedia di pasar lokal maupun luar negeri.

Sederhana saja rumusnya: We will fight the way we train. Apa dan bagaimana latihan kita, itulah yang akan keluar pada saat kondisi kita memerlukannya. Semakin dekat cara latihan kita kepada kondisi tersebut, semakin besar kemungkinan kita untuk suskses selamat bila sampai mengalaminya. Kita akan bertarung sebagaimana kita berlatih, itu kuncinya.

Namun demikian, setiap hal kreasi manusia pasti ada kekurangannya, termasuk mengenai realistic training dengan perlengkapan modern ini. Artikel ini bermaksud mengingatkan kita semua (yang menjalankan realistic-training) untuk tetap mengingat suatu hal yang penting untuk terus dihormati yaitu: ”Rasa Sakit”.

Saya pernah melihat beberapa kawan yang latihan sparring stick-fighting dengan armor yang lengkap. Mereka saling berbalas pukul bertubi-tubi dengan intensitas dan ketukan yang super cepat sehingga bunyinya nyaris menyaingi suara drummer Power Metal sedang latihan di tengah panas teriknya kota Surabaya.

It’s a good drill, good sparring, good sport, good training. Salah satu yang kurang dari metode sparring tsb adalah: Lack Respect for Pain!

Saya pribadi sering mengalami hal tsb dalam latihan. Pernah dalam suatu sparring vale-tudo saya jatuh kebawah, kawan saya berada di atas (mount position) dan menghujani kepala saya dengan pukulan sangat keras 4-5 kali. Karena saya menggunakan helm pelindung yang bagus (dengan cage full face), saya tidak KO dan mampu menyelamatkan diri (escape) dan berdiri lagi.

Selesai sparring, saya berpikir dan menyadari dengan penuh bahwa saya sebenarnya sudah KO bahkan pada detik awal latihan tadi. Saya sadar bahwa sebenarnya tidak perlu pukulan ke-2,3, atau 4 untuk membuat saya pingsan. Helm pelindung yang baik, menyelamatkan saya untuk tetap bisa belajar terus menerus dengan kondisi yang realistis.

Untuk menutupi kekurangan dalam metode ini maka yang kita perlukan ialah: 1)kesadaran, 2)kemampuan meng-evaluasi, dan 3)penghormatan terhadap rasa sakit.

Setiap kali kita terkena pukulan di wajah kita yang tertutup helm, setiap kali tongkat lawan menyabet tangan kita yg tertutup glove-protector, kita harus ingat bahwa sesungguhnya ada rasa sakit di sana dan hal itu perlu kita hormati dengan kesadaran.

Namun demikian kekurangan ini bukan alasan bagi kita untuk kemudian menghindari realistic-training. Walaupun metode realistic-training juga memiliki kekurangan di sana-sini, namun metode ini masih lebih baik daripada kita sekedar memukul, menendang atau menebas angin kesana-kemari. Ingatlah sekali lagi rumusnya: "Kita akan bertarung sebagaimana kita berlatih."

Semoga bermanfaat

Friday, January 18, 2008

Dari Redaksi: Undangan Diskusi Silat Harimau

Berikut ini adalah undangan dari Komunitas Sahabat Silat:

Sahabat Silat,

Melanjutkan tradisi diskusi bulanan kita, pada bulan Januari ini akan diselenggarakan diskusi sebagai berikut:

Topik : Silat Harimau (Minangkabau)
Pembicara : Bapak Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam
Tempat : Anjungan Sumatera Barat - TMII
Waktu : 14.00, Sabtu 26 Janurai 2008

Seperti biasa, akan ditampilkan sejarah, filosofi dan demo jurus/aplikasi silat ini. Acara akan diarahkan oleh sahabat kita Kisawung selaku Moderator diskusi.

Sedikit latar belakang tentang pembicara, Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam, beliau belajar silat sejak usia dini dari kakeknya di kampungnya negeri Balingka, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Kecintaannya terhadap Silek Minang terlihat dari kemauannya mempelajari baik Silek Harimau yang merupakan mainan keluarganya maupun Silek-silek Minang lain dari beberapa Tuo Silek di Ranah Minang.

Adapun aliran-aliran Silek Minang lain yang pernah dipelajari beliau antara lain Silek Tuo, Silek Sunua, Silek Kumango, Silek Sitaralak, Silek Pakiah Rabun dan Silek Kuciang.

Kami sangat mengharapkan kedatangan Sahabat Silat sekalian. Karena TMII merupakan tempat hiburan keluarga, tidak ada salahnya untuk
mengajak keluarga ke acara kita ini, sekaligus memperkenalkan kekayaan
budaya Indonesia kepada anak-anak kita.

Sampai ketemu dan salam hormat.

Panitia

PS: Diskusi ini adalah kali kesekian bagi Komunitas Sahabat Silat melaksanakan diskusi atas suatu aliran silat. Sebelumnya kami juga pernah melaksanakan diskusi tentang silat Cingkrik Goning, Cikalong, Margaluyu, Silau Macan, Gerak Gulung dll. Bila ingin mengetahui lebih jauh tentang komunitas Sahabat Silat silahkan buka www.silatindonesia.com

Jika anda seorang penggemar seni beladiri, khususnya seni beladiri dari Indonesia, patutlah kalau anda luangkan waktu untuk meramaikan acara ini.

Bagi penggemar teknik-teknik grappling, diskusi ini penting untuk membuka wawasan kita. Grappling dan Ground Fighting tidak hanya ada pada beladiri Judo, Jujustsu, ataupun gulat. Ilmu Silat di nusantara ini memiliki kekayaan teknik yang sangat luar biasa, termasuk teknik grappling dan ground fighting. Dapat dipastikan kita akan mendapatkan banyak manfaat. Selain melihat kekayaan teknik grappling nusantara, kehadiran kita juga merupakan dukungan bagi berbagai usaha pelestarian kekayaan bangsa.

semoga bermanfaat