JALANPETARUNG. blogspot.com, Train Hard! Train Smart!!!

Semoga bisa menjadi Jalan inspirasi dan pencerahan bagi seniman bela diri Indonesia. Di JALAN PETARUNG, berbagai topik mengenai bela diri akan terus dikaji secara ilmiah sehingga tidak sekedar menjadi mitos, kepercayaan, dogma, apalagi agama baru. JALAN PETARUNG mendorong pendekatan seniman bela diri yang berpikiran terbuka (open mind) sehingga selalu bersikap sebagai cangkir kosong (empty cup) yang bersedia mendengar dan terus belajar dari orang ataupun aliran lain. Mohon masukan dan saran melalui komentar di blog ini, shoutbox, ataupun via email jkdindonesia@yahoo.com


Friday, May 23, 2008

Artikel: “Mainan”

Ini kisah imajiner antara si Foolan dan seorang Guru besar.

Sambil minum teh botol seusai menyaksikan rentetan pagelaran peragaan berbagai aliran seni beladiri, Foolan iseng-iseng ngobrol dengan seorang Guru besar dari sebuah aliran yang cukup disegani.

Foolan: ”Gimana Beh permainan seni beladiri yang ditampilin tadi?”
Guru: (sambil tersenyum) ”Bagus! Cakep!”

Foolan: (mulai usil) ”Kalo dibandiingin sama permainan Babeh gimana?”

Sang Guru tersenyum sambil memandang ke arah tanah, memperhatikan semut yang berjalan beriringan. Beliau menggeser kakinya, khawatir menginjak rombongan semut yang kelihatan asyik sedang mengangkut sisa makanan dari pasar seberang.

Guru: ”Yah, sama-sama Maenan...”
Foolan: ”Maksudnya Beh?”

Lagi-lagi sang Guru tersenyum.

Guru: ”Waktu kecil dulu, ente pernah punya mainan?”
Foolan: ”Punya Beh, mobil-mobilan”, kata Foolan sambil membayangkan mainan lamanya

Guru: ”Dulu ente sayang sama tuh mainan?”
Foolan: ”Ya sayang Beh. Sampe rebut-rebutan”

Kini sang Guru nyengir. Mungkin membayangkan mainan masa kecilnya juga. Kira-kira lebih dari tujuh puluh tahun lalu. Kemungkinan besar kuda-kudaan dari pelepah pisang atau gerobak-gerobakan dari kulit jeruk bali.

Guru: ”Sekarang, kemana tuh mainan?” Lanjut sang Guru besar
Foolan: ”Wah, uda
h nggak tau kemana Beh, udah dikasih ke keponakan. Mungkin sekarang udah rusak.”

Guru: ”Itulah yang namanya mainan. Yang penting sekarang, ente jadi manusia yang seperti apa.”

Pembicaraan terputus karena ada rombongan orang yang baru keluar ruangan dan bergabung nongkrong minum teh botol bersama Foolan dan sang Guru besar. Yang pasti perlu waktu lama bagi Foolan untuk mengerti dalamnya makna pembicaraan sederhana itu.

It’s all about being a good person

Semoga bermanfaat

Saturday, May 17, 2008

Artikel: Pempek dari Filipina

Di Amerika sana, di tempat segala hal dikapitalisasi, seni beladiri Arnis atau Filipino Kali sangatlah terkenal. Hal ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari kerja keras Dan Inosanto yang memperkenalkan seni beladiri ini dalam berbagai kesempatan. Belum lagi jika dilihat banyaknya jumlah orang Filipina yang berjuang mencari rezeki di negeri yg konon bisa mewujudkan berbagai impian itu.

Saya sendiri berkesempatan sedikit-sedikit berkenalan dengan teknik-teknik Filipino Kali. Hal ini disebabkan karena ada sebagian kurikulum dalam JKD Indonesia, utamanya soal senjata, yang mengambil dari teknik Filipino Kali.

Sejak perkenalan pertama, saya sudah merasakan adanya kedekatan yang luar biasa. Rasanya hampir mirip seperti membeli sepatu merek Amerika, tapi sadar bahwa sesungguhnya sepatu itu dibuat oleh buruh Indonesia di Tangerang sana :) . Pola serangan, teknik pertahanan, prinsip-prinsip bertarung dan lain sebagainya dalam Filipino Kali, tidak lain tidak bukan, sangat dekat dengan Pencak Silat kreasi nenek moyang kita.

Walaupun saya bukan Antropolog, tapi dari kasak-kusuk riset sekedarnya kini saya sudah yakin bahwa Filipino Kali ini sesungguhnya adalah Silat atau keturunan dari Silat. Argumen yang paling jelas ialah bahwa Filipina itu pernah berada dalam pendudukan kerajaan Sriwijaya cukup lama. Hingga kini keturunan Sriwijaya masih eksis dan dikenal sebagai orang Visayan yang tinggal di Filipina tengah. Banyak orang Visayan yang ahli Filipino Kali, utamanya dalam bermain pisau. Kekuasaan Sriwijaya di sana kemudian digantikan oleh karajaan Majapahit. Pengaruh Islam mulai menyebar terutama di Filipina selatan yang kemudian menjadi bangsa Moro.

Abad 16 barulah Spanyol masuk menjajah Filipina. Dengan berbekal ilmu "Silat" itu orang Filipina berjuang melawan Spanyol. Perang merupakan interaksi, yang mau tidak mau akan saling mempengaruhi. Orang Filipina mulai kepincut pada senjata-senjata Spanyol dan dengan dasar "Silat"nya mulai latihan espada y daga (sword and dagger).

Logika awam saya menyimpulkan bahwa kalau kerajaan-kerajaan besar dari Indonesia seperti Sriwijaya dan Majapahit menduduki suatu wilayah, pastilah ada pengaruh kuat terhadap budaya setempat, termasuk budaya seni perang dan beladiri. Dari segi teknik juga terdapat banyak kemiripan yang luar biasa. Mata awam akan sangat sulit membedakan aplikasi Filipino Kali dan aplikasi Silat. Permainan pisau orang Visayan sudah hampir pasti merupakan peninggalan keahlian main pisau dari orang Palembang. Sama-sama Pempek, hanya beda warung dan mungkin sedikit beda bumbu penyedap di sana-sini.

Semoga bermanfaat

Ps: tulisan ini didaur ulang dari satu posting saya di sahabatsilat.com